SEMOGA BERMANFAAT

SELAMAT DATANG DI BLOG KUSNAN HIDAYAT
1 comments

27 Keutamaan Menghafal Al Quran


Keutamaan Al Quran dan Orang yang Menghafalnya



Sudah beberapa hari tidak posting, sekarang saya sedikit memberi tambahan wawasan tentang menghafal Alquran. Di paragraf terakhir ada link VIDEO

Berikut adalah Keutamaan Al-Quran dan Orang yang Menghafalnya
  1. Cara asli belajar Alquran adalah dengan menghafal
Rasulullah ketika belajar Alquran dahulu dengan menghafal. Maka sangat sepantasnya kita dalam mendalami, memahami isi kandungan yang ada dalam Alquran dengan cara menghafalnya
  1. Alquran adalah pedoman utama untuk dipelajari
Banyak ilmuan yang menemukan hasil penelitiannya ternyata ide-ide itu gagasan-gagasan itu bersumber dari kandungan isi Alquran
  1. Menghafal alquran adalah sunah Rasulullah
Teladan yang sangat diapresiasi, dihargai, dan dijunjung tinggi oleh Rasulullah adalah umatnya yang mau menghafal Alquran 
  1. Menghafal Alquran adalah kebiasaan orang-orang solih jaman dahulu
Banyak para sahabat, tabi'in, orang solih yang lain itu memiliki kebiasaan menghafal Alquran. Bahkan Rasulullah sendiri sangat senang menghafal Alquran. Setiap bulan puasa beliau mengkhatamkan Alquran bersama malaikat Jibril. 
  1. Penghafal Alquran akan di khususkan oleh Allah
Dalam sebuah riwayat dijelaskan orang yang ahli Alquran adalah keluarganya Allah dan kekhususannya Allah
  1. Menghafalkan Alquran dimudahkan bagi setiap orang.
Dalam Surat Al-Qomar ayat 17 Allah berfirman : Niscaya sungguh Aku telah mudahkan Alquran untuk diingat (dihafalkan). Maka adakah yang mau mengambil peringatan (menghafalnya).
Ayat tersebut jelas meng-isyaratkan bagi kita hamba Allah untuk menghafalkan Alquran jika kita mau tergolong orang yang berfikir. 
  1. Menghafal Alquran adalah usaha yang tidak mengenal rugi
Dalam sebuah riwayat dijelaskan "Wakhoiru jaliisin la yumalu hadiisuhu" artinya sebaik-baiknya teman duduk adalah Alquran
  1. Penghafal Alquran akan dimuliakan oleh Allah.
Bahkan Ulama' dulu melarang menepuk pundak/bahu para penghafal Alquran karena saking mereka para Ulama' mengagungkan penghafal Alquran
  1. Menghafal Alquran pahalanya lebih baik dari kesenangan dunia jenis apapun
Mengapa demikian ? karena letak kebahagiaan sejati ada di hati. Bayangkan saja hati kita dihiasi dengan ingatan-ingatan ayat Alquran betapa terangnya, tentramnya, sejuknya, bahagianya hati kita.
  1. Orang yang hafal Alquran adalah yang berkhak menjadi imam solat
Urutan orang yang berkhak menjadi imam solat ketika ada perselisihan adalah yang paling pertama orang yang hafalan Alqurannya paling banyak dan bagus. 
  1. Allah mengangkat derajat penghafal Alquran
Dalam sebuah riwayat menjelaskan kelak di akhirat bagi para penghafal Alquran diperintah oleh Allah untuk membaca hafalan Alquran mereka dengan suara yang indah seperti ketika membaca di dunia, lantas diperintah naik ke derajat surga sesuai dimana akhir ayat yang dibaca. 
  1. Hafalan Alquran bisa di buat mas kawin
Zaman dahulu ada seorang bujangan yang tidak punya apa-apa ingin menikahi seorang gadis, lantas datang pada Nabi. Akhirnya Nabi memberikan solusi untuk menggunakan hafalan Alquran yang ia miliki sebagai maskawin
  1. Penghafal Alquran akan diberi syafaat dan di bela oleh Alquran kelak di hari kiamat
Di hari Qiamat hari yang sangat panas dan mengerikan ternyata Alquran memberikan pertolongan kepada penghafal Alquran 
  1. Pemuda yang menghafal Alquran menjadi salah satu yang dinaungi oleh Allah saat panasnya hari kiamat
Saat hari itu panas sekali dan tidak ada naungan sedikitpun melainkan hanya naungan dari Allah.
  1. Penghafal Alquran adalah orang yang selalu dzikir kepada Allah
Bagaimana tidak ? penghafal Alquran selalu memperhatikan Alquran, menjaga Alquran, dan menderes Alquran 
  1. Membaca Alquran sama saja berdialog langsung dengan Allah

  1. Orang yang selalu membaca dan menghafal alquran kebutuhan dan keinginannya akan selalu dicukupi oleh Allah
Banyak sekali testimoni dari para penghafal Alquran. Kebanyakan kehidupan mereka berubah ketika dekat dengan Alquran 
  1. Menghafal Alquran dapat mengobati hati yang keras dan penyakit hati lainnya karena hatinya akan terbimbing oleh ajaran-ajaran dalam Alquran

  1. Orang yang hafal Alquran selalu mendapat ilham yg baik.


  1. Orang yang menghafal Alquran akan mendapat jaminan keberhasilan khusus dari Allah

  1. Penghafal Alquran akan di sebut-sebut namanya oleh Allah dan dikenalkan kepada seluruh makluk yang ada dilangit
Diriwayatkan dilangit sana Allah mengumumkan kepada seluruh makluk langit termasuk malaikat dan lainnya diberi tahu bahwa ini si Fulan adalah hambaku lihatlah dia menghafalkan Alquran dia dekat dengan Alquran. Betapa hebatnya penghafal Alquran dikenal oleh semua makluk yang ada di langit. Kita saja baru terkenal satu Kecamatan saja bangganya sudah minta ampun, ini seluruh makluk di langit mengenal kita kalau mau menghafal Alquran.
  1. Orang yang mempelajari dan menghafal serta mau mengajarkan Alquran menjadi sebaik-baiknya manusia

  1. Hafalan Alquran akan menghiasi hati dan keimanan

  1. Orang yang hafal Alquran berarti mendapat warisan dari Nabi dengan sempurna

  1. Orang iman yang menghafal Alquran gambarannya seperti buah jeruk.
Buah jeruk itu dicium aromanya harum dan enak, lantas ketika dimakan rasanya juga enak dan segar. Beda dengan buah kurma yang rasanya enak tapi tidak beraroma
  1. Penghafal Alquran orang tuannya akan diberi mahkota yang bersinar kelak dihari kiamat

  1. Orang yang hafal Alquran dapat memberi syafaat kepada keluarganya


Tambahan VIDEO, silahkan dilihat 1. https://www.youtube.com/watch?v=RUNKAInRPr0

2. https://m.youtube.com/watch?v=t8ooVPJu2oc
read more
0 comments

3 hal yang harus diketahui saat wanita mengeluh

3 hal yang harus diketahui saat wanita mengeluh

Kita sering dihadapkan pada keadaan dimana wanita yang kita kenal itu sedang mengeluh terhadap kita. Entah itu ibu, kakak perempuan, adik perempuan, atau teman perempuan, atau bahkan istri kita sendiri bagi yang sudah punya istri. Tetapi jangan menyangka bahwa itu murni sebuah keluhan. Ada beberapa hal tersembunyi dibalik keluhan seorang wanita. Berikut adalah beberapa hal yang harus kita ketahui saat wanita yang kita kenal mengeluh terhadap kita:

1.    Butuh perhatian


Pada dasarnya kodrati wanita itu adalah makluk yang lemah. Salah satu tandanya dia sering mengeluh terhadap orang yang dirasa nyaman olehnya. Tetapi kita sebagai seorang laki-laki yang dirasa nyaman olehnya jangan memiliki pandangan yang sempit. Kita jangan langsung memberi tanggapan bahwa wanita kok kerjaannya cuma mengeluh. Tetapi disini kita mengambil sikap yang bijak dengan cara mendengarkan keluhannya. Sebenarnya dia hanya ingin didengar keluh kesahnya, dia ingin diperhatikan kesibukannya seharian tadi. Dengan memberi sikap perhatian terhadapnya ini akan menjawab teka teki kenapa dia mengeluh secara tiba-tiba terhadap kita laki-laki.

2.    Ingin curhat


Ketika wanita yang kita kenal tiba-tiba mengeluh itu bisa jadi dia ingin curhat, dia ingin berbicara sesuatu hal yang dirasanya penting. Kita jangan langsung menghakimi bahwa wanita itu kerjaannya mengeluh. Coba kita tenangkan dia kemudian ajak dia berbicara apa saja yang membuat dia nyaman. Misal ngobrol masalah pekerjaannya , sekolahnya, atau teman-temannya. Ketika dia sudah nyaman pasti dia akan mulai berbicara atau curhat tentang masalah yang ingin ia ungkapkan. Kalau dia belum bercerita kita bisa memulai duluan bertanya. Sebenarnya ada apa, ada masalah apa, kalau boleh aku mendengarnya siapa tau aku bisa memberi solusi, itu kalau kamu mau berbicara. Ya pandai-pandai kita merayu wanita tersebut untuk bercerita masalahnya.

3.    Mempunyai harapan besar terhadap kita laki-laki


Ketika wanita melihat seorang laki-laki yang menurutnya memiliki potensi untuk membawa perubahan pada dirinya pasti dia akan menaruh harapan yang besar terhadapnya. Tetapi kadang disini penyampaian seorang wanita itu tidak lazim diterima baik oleh laki-laki. Penyampaian harapan tersebut kadang dengan mengeluh terhadap laki-laki tersebut. Ini memang hal yang aneh tetapi ini hal yang wajar karena wanita itu makluk yang membingungkan di mata laki-laki. Dia menginginkan laki-laki tersebut lebih peka, lebih rajin, atau lebih berusaha tetapi keinginan tersebut disampaikan lewat keluhan. Misal kamu jadi laki-laki kok malas, kamu kok tidak pernah berusaha, kamu kok acuh sekali, dan lain sebagainya di cari sendiri lah contohnya soalnya banyak sekali. Dengan adanya hal tersebut kita harus pandai menterjemahkan bahasa tersebut. Jika di bilang laki-laki kok malas itu artinya dia memiliki harapan bahwa kita supaya menjadi laki-laki yang rajin dan berusaha keras. Dan contoh terjemahan lainnya yang mungkin bisa kita terjemahkan sendiri-sendiri.

Mungkin itu yang bisa disampaikan pada kesempatan ini. Pada intinya wanita itu adalah makluk yang penuh teka-teki. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai menanggapi atau menangkap situasi tersebut.

Salam
By Maskus
read more
0 comments

Bagaimana menikah sebelum mapan ? mari lihat penjelasannya



Wedding
Beruntunglah mereka yang menikah sebelum mapan. Berbahagialah mereka yang mendapatkan pasangan yang belum mapan.
Banyak laki-laki yang menunda menikah dengan alasan ‘belum mapan’. Saya tak ingin memperdebatkan apa definisi ‘mapan’ di sini, karena mapan bagi setiap orang punya ukuran yang berbeda-beda. Tapi, bagi mereka yang masih ragu untuk menikah karena menunggu mapan, izinkanlah saya memberi nasihat yang baru: Menikahlah sebelum mapan!
Saya selalu suka kalimat John Donne yang pernah juga dipelesetkan Abraham Heschel, katanya: ‘No man is an island’, tak ada laki-laki yang menjadi pulau bagi dirinya sendiri. Artinya, tak ada seorangpun yang bisa hidup sendirian—seperti sebuah pulau yang tak membutuhkan orang lain. Setiap orang selalu membutuhkan orang lain untuk berbagi dan mengisi sesuatu yang ‘kosong’ dalam hidupnya. Dalam konsep ini, menurut Donne, tak ada seorang pun di dunia ini yang ‘mapan’.
Jika seorang yang hendak menikah memiliki cara berpikir demikian, maka pernikahan bisa didekati dengan cara yang lebih rendah hati. Jika seorang laki-laki bisa berpikir ‘saya belum mapan’, misalnya, maka ia akan mendekati istrinya sebagai seseorang yang akan menyempurnakan hal-hal yang belum mapan dalam dirinya.
Bagi saya, mapan tentu saja bukan soal kekayaan atau kepemilikan saja, mapan adalah soal kesanggupan individu dalam menghadapi berabagai tantangan dalam hidupnya. Kalau mapan hanya soal uang atau karir, bukankah banyak yang berlebih secara materi dan gemilang di tempat kerja tapi tak sanggup menghadapi ego dan amarahnya sendiri? Nah!
Dengan pemahaman baru ‘menikah sebelum mapan’, seseorang akan menghadapi pasangannya dengan penuh penghargaan. Karena ia sadar bahwa dalam diri pasangan tersebut ada sisi-sisi yang akan menyempurnakan dirinya. Bayangkan kalau cara berpikir seperti ini tidak ada dalam sebuah pernikahan, hubungan suami-istri akan melulu atas-bawah, subordinatif, dan cenderung tidak adil.
Tidak sedikit suami yang karena merasa bahwa dialah yang memiliki ‘penghasilan’, dialah yang punya uang, dialah yang hidupnya ‘mapan’, dialah yang bersinar di dunia luar, malah merendahkan dan tidak menghargai istrinya.
Jika nekad menikah sebelum mapan, lantas istri dan anak mau dikasih makan apa—dikasih makan cinta? Barangkali pertanyaan itu benar-benar terasa mengganggu. Tapi orang-orang lupa bahwa mapan tak sama dan sebangun dengan rasa tanggung jawab. Yang dibutuhkan dalam pernikahan bukanlah harta yang berlimpah, tapi rasa tanggung jawab yang cukup.
Percuma saja punya kekayaan banyak tapi tak bertanggung jawab, kan? Banyak kok suami yang rela membuat istri dan anak-anaknya ‘susah’ tetapi memanjakan dirinya sendiri—malah memanjakan selingkuhannya. Artinya, harta yang banyak tak akan berarti apa-apa dalam pernikahan jika kita tak punya banyak cinta untuk menjalaninya.
Suatu hari saya ditanya soal mewujudkan impian bersama dalam rumah tangga, “Bagaimana meyakinkan istri atau suami agar mau bersama-sama mewujudkan impian besar yang kita miliki?” Jawabannya tentu saja sederhana. Pertama-tama, berpikirlah bahwa kita adalah individu yang tidak sempurna, bahwa kita selalu membutuhkan bantuan orang lain, bahwa kita membutuhkan partner untuk mewujudkan impian-impian kita.
Dengan merasa bahwa kita ‘tidak sempurna’, maka kita akan terus menjadi ‘pribadi yang membelum’, pribadi yang selalu dalam proses… Di sanalah akan tercipta kesalingpahaman antara suami dan istri. Selanjutnya, keduanya akan sama-sama menjalin komitmen untuk bersama mewujudkan impian-impian besar yang mereka miliki.
Tapi, jangan hanya saling mengerti untuk mewujudkan impian-impian besar saja! Pernikahan bukan hanya tentang mewujudkan impian-impian besar, tapi juga menjalani hal-hal kecil di keseharian. Jika yang ada dalam pikiran Anda hanya ingin mewujudkan impian-impian besar, sebaiknya jangan menikah, tapi ikutlah organisasi atau partai politik!
Lantas apakah dengan menikah seseorang yang ‘belum mapan’ akan menjadi mapan? Belum tentu. Tergantung kualitas pernikahan itu sendiri. Dan kualitas pernikahan ditentukan oleh pola hubungan antara suami dan istri. Banyak suami atau istri yang memperlakukan pasangannya dengan prinsip relasi ‘aku-kamu’, dengan menganggap pihak ‘kamu’ hanya sebagai objek atau benda yang tak memiliki kehendak atau pilihan-pilihan.
Tentu saja relasi semacam ini miskin empati. Dalam relasi ‘aku-kamu’ semacam ini, pusat kepentingan ada di ‘aku’ dan ‘kamu’ adalah pihak luar, kamu adalah yang harus memerhatikan aku, kamu adalah yang harus nurut, kamu adalah objek yang tidak merdeka.
Martin Buber, filsuf asal Austria, menawarkan pola hubungan lain yang lebih baik. Ia menyebutnya ‘aku dan engkau’ (I and Thou atau Ich und Du). Dalam relasi aku-engkau, kata Buber, ‘engkau’ lebih dihargai sebagai subjek yang setara. Karena dalam diri ‘engkau’ ada bagian dari ‘aku’. Pemisah antara aku dan engkau bukan sekadar hak dan kewajiban, tetapi ikatan yang saling menguatkan.
Jika kita melihatnya dalam konteks pernikahan, dalam hubungan ‘aku-engkau’ cara pandangnya bukan semata-mata tentang apa kewajiban serta hak-hak suami terhadap istrinya, atau sebaliknya, tetapi lebih kepada hubungan kasih-sayang—juga rasa cinta. Jika hubungan rumah tangga di bangun di atas prinsip ini, tak ada lagi persoalan ‘siapa harus menghormati siapa’ atau ‘siapa harus menurut kepada siapa’ sebab segalanya berdasar pada ‘aku melakukan ini dan tidak melakukan itu karena aku menyayangimu’.
Kembali pada diskusi kita soal kemapanan, individu yang lebih menghargai individu lainnya, suami yang lebih berempati pada istrinya, memiliki peluang lebih besar untuk mapan dalam pernikahannya. Sekali lagi, mapan bukan hanya soal kepemilikan kapital dan kecukupan finansial, tetapi ‘mapan’ dalam pengertian yang lebih luas: Menjadi pribadi dewasa yang sanggup menghadapi beragam tantangan dalam hidupnya. Dengan modal kemapanan semacam ini, pernikahan yang bahagia tentu merupakan sesuatu yang niscaya.
Akhirnya, bagi saya, prinsip ‘menikah sebelum mapan’ adalah pilihan orang-orang cerdas yang penuh optimisme sakligus empati. Bagi yang sedang mencari pasangan, carilah orang yang seperti ini. Carilah orang yang akan mengajak Anda sukses dan bahagia bersama, bukan orang yang merasa sudah sukses lalu hanya akan menjadikan Anda ‘pelengkap’ saja.
Maka benarlah firman Allah dalam Al-Quran, istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian baginya (Al-Baqarah 187). Suami adalah individu yang belum mapan tanpa istrinya, dan istri adalah pribadi yang belum sempurna tanpa suaminya.
Jadi, bagaimana? Masih menunggu mapan untuk menikah? Sampai kapan?

Sumber : bobobibi.com
read more
0 comments

Tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan

Tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan
Banyak hal yang selama ini belum kita pahami secara detail. Khususnya dalam hal tua dan dewasa. Dua kata yang saling berdampingan dan dianggap sama. Tetapi ternyata dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda.
Kita semua pasti akan menuju masa tua. Entah yang masih balita, anak-anak, remaja, muda-mudi semua akan menuju ke masa tua. Tetapi belum tentu kita semua menuju proses dewasa. Tinggal bagaimana kita memilih proses kehidupan ini, apakah kita belum bisa membedakan mana baik mana buruk, ingin selalu bersenang-senang, tidak mau mempersiapkan masa depan, masih mengedepankan ego, dan kurang bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Atau apakah kita sudah bisa membedakan mana baik mana buruk, ingin menahan keinginan yang tidak bermanfaat, mempersiapkan masa depan, mengurangi ego, dan belajar bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Itu semua tergantung pada diri kita sendiri.
Sebelumnya kita bahas antara tua dan dewasa terlebih dahulu. Tua adalah dimana seseorang sudah berumur 30 an ke atas. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa makna kata tua adalah lebih spesifik terhadap umur. Berapakah umur kita sekarang itu yang menentukan kita masih muda apa sudah tua.
Dewasa adalah proses dimana seseorang sudah bisa membedakan mana baik mana buruk, bisa menempatkan diri pada keadaan apapun, dan berfikir secara matang. Hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa dewasa adalah lebih spesifik pada keadaan psikis seseorang. Diantaranya keadaan kejiwaannya, fikirannya, dan emosinya.


Belum tentu orang yang sudah tua itu dewasa dan belum tentu juga orang yang masih muda itu belum dewasa. Itu semua tergantung pada diri kita sendiri. Jika kita sudah tua tapi masih belum bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, masih suka bersenang-senang yang tidak bermanfaat, tidak mau mempersiapkan masa depan, masih mengedepankan ego, dan kurang bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Berarti itu intinya kita belum dewasa walaupun kita sudah tua.
Jika kita masih muda tapi sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, bisa menahan kesenangan yang tidak bermanfaat, sudah mempersiapkan masa depan, bisa menahan ego, dan belajar bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Berarti itu intinya kita sudah dewasa walaupun masih muda.
Dari pemaparan di atas dapat diambil beberapa inti diantaranya, tua itu identik dengan keadaan jasmani dan dewasa itu identik dengan keadaan rohani. Tua itu identik dengan keadaan lahir dan dewasa itu identik dengan keadaan batin. Tua itu identik dengan umur dan dewasa itu identik dengan keadaan psikis.
So jangan pantang menyerah dalam mempelajari kehidupan ini walau masih muda. Justru pemuda adalah para agen perubahan dalam kehidupan ini. Mari kita belajar dewasa mulai dari sekarang. Karena tidak semua orang bisa memahami ini. Jadilah orang-orang pilihan yang bisa memahami dan menerapkan arti sejati kedewasaan ini.


By Maskus
read more
0 comments

Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri

Pondok Pesantren Walibarokah Burengan Banjaran Kediri dibawah naungan yayasan Wali Barokah didirikan atas gagasan KH. Nurhasan Al Ubaidah bin KH Abdul Aziz yang ingin menyiarkan agama Islam secara murni, mukhlis berpedoman kitab suci Al-Qur'an dan Al-Hadits dengan berlandaskan pada hak dasar kebebasan beragama yang dijamin oleh Undang - Undang Dasar 1945, maka diperjuangkanlah syiar agama Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai kelanjutan perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, mencapai cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, mutlak diperlukan partisipasi dan peran serta dari segenap lapisan masyarakat Indonesia. Memberikan peningkatan kehidupan beragama serta partisipasi pembangunan masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur baik material maupun spiritual dan berakhlakul karimah bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Komplek Pondok

 Gedung Wali Barokah

read more
0 comments

Penelitian Tindakan Kelas

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Alloh SWT, atas segala ramat dan hidayah-Nya yang tiada ternilai harganya sehingga tugas mata kuliah Metode dan Strategi Pembelajaran ini dapat terselasaika dengan baik. Penulisan tugas kuliah ini bukanlah akhir dari sebuah proses balajar,akan tetapi sebagai awal bagi penulis untuk bisa melangkah kedepan dengan baik.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan atas terselesaikannya tugas mata kuliah metode dan strategi pembelajaran kepada :
1.      Bapak Drs. Bambang Prawiro, M. M.
2.      Teman-teman kontrakan dan KSR yang mendukung penulisan tugas ini.
3.      Dan masih banyak yang lainnya yang tidak bisa sebut satu persatu
Tak lupa penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penulisan tugas kuliah metode dan strategi pembelajaran kedepannya.

Surakarta, 07 november 2012


Kusnan Hidayat











PENELITIAN TINDAKAN KELAS
1.      Pentingnya Penelitian Tindakan Kelas
Dalam menjalankan tugasnya, secara ideal guru merupakan agen pembaharuan.Sebagai agen pembaharuan, guru diharapkan selalu melakukan langkah-langkah inovatif berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukannya.Langkah inovatif sebagai bentuk perubahan paradigma guru tersebut dapat dilihat dari pemahaman dan penerapan guru tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK sangat mendukung program peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah yang muaranya adalah peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini, karena dalam proses pembelajaran, guru adalah praktisi dan teoretisi yang sangat menentukan. Peningkatan kualitas pembelajaran, merupakan tuntutan logis dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (Ipteks) yang semakin pesat. Perkembangan Ipteks mengisyaratkan penyesuaian dan peningkatan proses pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga berdampak positif terhadap peningkatan kualitas lulusan dan keberadaan sekolah tempat guru itu mengajar.
Berdasarkan penjelasan tersebut, peningkatan kompetensi guru merupakan tanggung jawab moral bagi para guru di sekolah. Peningkatan kompetensi guru mencakup empat jenis, yaitu (1) kompetensi pedagogi (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi kepribadian. Berdasarkan UURI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PPRI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan UURI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, peningkatan kompetensi guru menjadi isu strategis dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Bahkan menurut PPRI Nomor 19 Tahun 2005 tersebut pada pasal 31 ditegaskan, bahwa selain kualifikasi, guru sebagai tenaga pendidik juga dituntut untuk memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkannya.
Upaya peningkatan keempat kompetensi merupakan upaya peningkatan profesionalisme guru. Peningkatan profesionalisme dapat dicapai oleh guru dengan cara melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara berkesinambungan. Praktik pembelajaran melalui PTK dapat meningkatkan profesionalisme guru (Ahmar, 2005; Jones & Song, 2005; Kirkey, 2005; McIntosh, 2005; McNeiff, 1992). Hal ini, karena PTK dapat membantu (1) pengembangan kompetensi guru dalam menyelesaikan masalah pembelajaran mencakup kualitas isi, efisiensi, dan efektivitas pembelajaran, proses, dan hasil belajar siswa, (2) peningkatan kemampuan pembelajaran akan berdampak pada peningkatan kompetensi kepribadian, sosial, dan profesional guru (Prendergast, 2002). Lewin (dalam Prendergast, 2002:2) secara tegas menyatakan, bahwa penelitian tindakan kelas merupakan cara guru untuk mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan pengalamannya sendiri atau pengalamannya berkolaborasi dengan guru lain. Sementara itu, Calhoun dan Glanz (dalam Prendergast, 2002:2) menyatakan, bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu metode untuk memberdayakan guru yang mampu mendukung kinerja kreatif sekolah. Di samping itu, Prendergast (2002:3) juga menyatakan, bahwa penelitian tindakan kelas merupakan wahana bagi guru untuk melakukan refleksi dan tindakan secara sistematis dalam pengajarannya untuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa. Cole dan Knowles (Prendergast (2002:3-4) menyatakan bahwa, penelitian tindakan kelas dapat mengarahkan para guru untuk melakukan kolaborasi, refleksi, dan bertanya satu dengan yang lain dengan tujuan tidak hanya tentang program dan metode mengajar, tetapi juga membantu para guru mengembangkan hubungan-hubungan personal. Pernyataan Knowles tersebut juga didukung oleh Noffke (Prendergast (2002:5), bahwa penelitian tindakan kelas dapat mendorong para guru melakukan refleksi terhadap praktek pembelajarannya untuk membangun pemahaman mendalam dan mengembangkan hubungan-hubungan personal dan sosial antar guru. Whitehead (1993) menyatakan, bahwa penelitian tindakan kelas dapat memfasilitasi guru untuk mengembangkan pemahaman tentang pedagogi dalam rangka memperbaiki pemberlajarannya.
Penjelasan-penjelasan teoretis tersebut mengindikasikan, bahwa pemahaman dan penerapan PTK akan membantu guru untuk mengembangkan keempat kompetensi yang dipersyaratkan oleh UURI Nomor 14 Tahun 2005. PTK akan memfasilitasi guru untuk meningkatkan kompetensi-kompetensi profesional, pedagogi, kepribadian, dan sosial. Agar PTK tidak lepas dari tujuan perbaikan diri sendiri, maka sebelum seorang. Guru atau para Guru memulai merancang dan melaksanakan PTK, perlu memperhatikan hal-hal berikut.
1. PTK adalah alat untuk memperbaiki atau menyempurnakan mutu pelaksanaan tugas sehari-hari (mengajar yang mendidik), oleh karena itu hendaknya sedapat mungkin memilih metode atau model pembelajaran yang sesuai yang secara praktis tidak mengganggu atau menghambat komitmen tugasnya sehari-hari.
2. Teknik pengumpulan data jangan sampai banyak menyita waktu, sehingga tugas utama Guru tidak terbengkalai.
3. Metodologi penelitian hendaknya memberi kesempatan kepada Guru untuk merumuskan hipotesis yang kuat, dan menentukan strategi yang cocok dengan suasana dan keadaan kelas tempatnya mengajar.
4. Masalah yang diangkat hendaknya merupakan masalah yang dirasakan dan diangkat dari wilayah tugasnya sendiri serta benar-benar merupakan masalah yang dapat dipecahkan melalui PTK oleh Guru itu sendiri.
5. Sejauh mungkin, PTK dikembangkan ke arah meliputi ruang lingkup sekolah. Dalam hal ini, seluruh staf sekolah diharapkan berpartisipasi dan berkontribusi, sehingga pada gilirannya Guru-Guru lain ikut merasakan pentingnya penelitian tersebut. Jika kepedulian seluruh staf berkembang, maka seluruh staf itu dapat bekerja sama untuk menentukan masalah-masalah sekolah yang layak dan harus diteliti melalui PTK.
2.      Pengertian PTK
Penelitian tindakan telah mulai berkembang sejak perang dunia kedua. Oleh sebab itu, terdapat banyak pengertian tentang PTK. Istilah PTK dideferensiasi dari pengertian pengertian berikut.
Kemmis (1992): Action research as a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their on social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out.
McNeiff (2002): action research is a term which refer to a practical way of looking at your own work to sheck that it is you would like it to be. Because action research is done by you, the practitioner, it is often referred to as practitioner based research; and because it involves you thinking about and reflecting on your work, it can also be called a form of self-reflective practice.
Berdasarkan penjelasan Kemmis dan McNeiff tersebut, dapat dicermati pengertian PTK secara lebih rinci dan lengkap. PTK didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan. Tindakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas sehari-hari, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, PTK dilaksanakan dalam proses berdaur (cyclical) yang terdiri dari empat tahapan, planing, action, observation/evaluation, dan reflection.
3.      Karakteristik PTK
Karakteristik PTK yang sekaligus dapat membedakannya dengan penelitian formal adalah sebagai berikut.
1. PTK merupakan prosedur penelitian di kelas yang dirancang untuk menanggulangi masalah nyata yang dialami Guru berkaitan dengan siswa di kelas itu. Ini berarti, bahwa rancangan penelitian diterapkan sepenuhnya di kelas itu, termasuk pengumpulan data, analisis, penafsiran, pemaknaan, perolehan temuan, dan penerapan temuan. Semuanya dilakukan di kelas dan dirasakan oleh kelas itu.
2. Metode PTK diterapkan secara kontekstual, dalam arti bahwa variabel-variabel yang ditelaah selalu berkaitan dengan keadaan kelas itu sendiri. Dengan demikian, temuan hanya berlaku untuk kelas itu sendiri dan tidak dapat digeneralisasi untuk kelas yang lain. Temuan PTK hendaknya selalu diterapkan segera dan ditelaah kembali efektivitasnya dalam kaitannya dengan keadaan dan suasana kelas itu.
3. PTK terarah pada suatu perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran, dalam arti bahwa hasil atau temuan PTK itu adalah pada diri Guru telah terjadi perubahan, perbaikan, atau peningkatan sikap dan perbuatannya. PTK akan lebih berhasil jika ada kerja sama antara Guru-Guru di sekolah, sehingga mereka dapat sharing permasalahan, dan apabila penelitian telah dilakukan, selalu diadakan pembahasan perencanaan tindakan yang dilakukan. Dengan demikain, PTK itu bersifat kolaborasi dan kooperatif.
4. PTK bersifat luwes dan mudah diadaptasi. Dengan demikian, maka cocok digunakan dalam rangka pembaharuan dalam kegiatan kelas. Hal ini juga memungkinkan diterapkannya suatu hasil studi dengan segera dan penelaahan kembali secara berkesinambungan.
5. PTK banyak mengandalkan data yang diperoleh langsung atas refleksi diri peneliti. Pada saat penelitian berlangsung Guru sendiri dibantu rekan lainnya mengumpulkan informasi, menata informasi, membahasnya, mencatatnya, menilainya, dan sekaligus melakukan tindakan-tindakan secara bertahap. Setiap tahap merupakan tindakan lanjut tahap sebelumnya.
6. PTK sedikitnya ada kesamaan dengan penelitian eksperimen dalam hal percobaan tindakan yang segera dilakukan dan ditelaah kembali efektivitasnya. Tetapi, PTK tidak secara ketat memperdulikan pengendalian variabel yang mungkin mempengaruhi hasil penelaahan. Oleh karena kaidah-kaidah dasar penelitian ilmiah dapat dipertahankan terutama dalam pengambilan data, perolehan informasi, upaya untuk membangun pola tindakan, rekomnedasi dan lain-lain, maka PTK tetap merupakan proses ilmiah.
7. PTK bersifat situasional dan spesisifik, yang pada umumnya dilakukan dalam bentuk studi kasus. Subyek penelitian sifatnya terbatas, tidak representatif untuk merumuskan atau generalisasi. Penggunaan metoda statistik terbatas pada pendekatan deskriptif tanpa inferensi.
4.      Prinsip PTK
Menurut Hopkins (1993: 57-61), terdapat 6 prinsip penelitian tindakan kelas.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
1. Sebagai seorang guru yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, seyogyanya PTK yang dilakukan tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar. Ada dua hal penting terkait dengan prinsip ini. Pertama, mungkin metode pembelajaran yang diterapkannya dalam PTK tidak segera dapat memperbaiki pembelajarannya, atau hasilnya tidak jauh berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya. Sebagai pertanggungjawaban profesional, Guru hendaknya selalu secara konsisten menemukan sebabnya, mencari jalan keluar terbaik, atau menggantinya agar mampu memfasilitasi para siswa dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar secara lebih optimal. Kedua, banyaknya siklus yang diterapkan hendaknya mengutamakan pada ketercapaian kriteria keberhasilan, misalnya pembentukan pemahaman yang mendalam (deep understanding) ketimbang sekadar menghabiskan kurikulum (content coverage), dan tidak semata-mata mengacu pada kejenuhan informasi (saturation of information).
2. Teknik pengumpulan data tidak menuntut waktu dan cara yang berlebihan. Sedapat mungkin hendaknya dapat diupayakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangai sendiri, sementara Guru tetap aktif sebagai mana biasanya. Teknik pengumpulan data diuapayakan sesederhana mungkin, asal mampu memperoleh informasi yang cukup signifikan dan dapat dipercaya secara metodologis.
3. Metodologi yang digunakan hendaknya dapat dipertanggung jawabkan reliabilitasnya yang memungkinkan Guru dapat mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelas, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis tindakannya. Jadi, walaupun terdapat kelonggaran secara metodologis, namun PTK mestinya tetap dilaksanakan atas dasar taat kaidah keilmuan.
4. Masalah yang terungkap adalah masalah yang benar-benar membuat Guru galau, sehingga atas dasar tanggung jawab profesional, dia didorong oleh hatinya untuk memiliki komitmen dalam rangka menemukan jalan keluarnya melalui PTK. Komitmen tersebut adalah dorongan hati yang paling dalam untuk memperoleh perbaikan secara nyata proses dan hasil pelayanannya pada siswa dalam menjalankan tugas-tugas kesehariannya dibandingkan dengan proses dan hasil-hasil sebelumnya. Dengan demikian, mengajar adalah penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka mengkonstruksi pengetahuan sendiri agar mampu melakukan perbaikan praktiknya.
5. Pelaksanaan PTK seyogyanya mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, PTK hendaknya diketahui oleh kepala sekolah, disosialisasikan pada rekanrekan Guru, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis ilmiah, dan tetap mengedepankan kepentingan siswa layaknya sebagai manusia.
6. Permasalahan yang hendaknya dicarikan solusinya lewat PTK hendaknya tidak terbatas hanya pada konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan perspektif sekolah secara keseluruhan. Dalam hal ini, pelibatan lebih dari seorang pelaku akan sangat mengakomodasi kepentingan tersebut.
5.      Tujuan PTK
Tujuan PTK dapat digolongkan atas dua jenis, tujuan utama dan tujuan sertaan. Tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan professional Guru dalam menangani proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis kondisi, kemudian mencoba secara sistematis berbagai model pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah pembelajaran. Dengan kata lain, guru melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan, melakukan evaluasi, dan refleksi.
2. Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari kebutuhan untuk menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait dengan pembelajaran. Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting, (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari Guru sendiri, bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah,
(2) proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on, tidak dalam situasi artifisial, (3) produknyas adalah sebuah nilai, karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan.


3. Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru.

6.      Manfaat PTK
PTK dapat memberikan manfaat sebagai inovasi pendidikan yang tumbuh dari bawah, karena Guru adalah ujung tombak pelaksana lapangan. Dengan PTK Guru menjadi lebih mandiri yang ditopang oleh rasa percaya diri, sehingga secara keilmuan menjadi lebih berani mengambil prakarsa yang patut diduganya dapat memberikan manfaat perbaikan. Rasa percaya diri tersebut tumbuh sebagai akibat Guru semakin banyak mengembangkan sendiri pengetahuannya berdasarkan pengalaman praktis. Dengan secara kontinu melakukan PTK, Guru sebagai pekerja profesional tidak akan cepat berpuas diri lalu diam di zone nyaman, melainkan selalu memiliki komitmen untuk meraih hari esok lebih baik dari hari sekarang. Dorongan ini muncul dari rasa kepedulian untuk memecahkan masalahmasalah praktis dalam kesehariannya.
Manfaat lainnya, bahwa hasil PTK dapat dijadikan sumber masukan dalam rangka melakukan pengembangan kurikulum. Proses pengembangan kurikulum tidak bersifat netral, melainkan dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang saling terkait mengenai hakikat pendidikan, pengetahuan, dan pembelajaran yang dihayati oleh Guru di lapangan. PTK dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat pendidikan secara empirik.
7.      Prosedur PTK
PTK merupakan proses pengkajian suatu masalah pada suatu kelas melalui system daur ulang dari berbagai kegiatan, seperti yang ditunjukkan pada Bagan 01.
Bagan 01
Daur Ulang dalam Penelitian Tindakan Kelas
Daur tersebut dapat dilaksanakan bertolak dari hasil refleksi diri tentang adanya unsur ketidakpuasan diri sendiri terhadap kinerja yang dilakukan dan yang dilalui sebelumnya. Misalnya, Guru sadar bahwa hasil belajar siswa pada bidang studi yang diasuh selalu terpuruk. Guru saat itu berpikir tentang strategi pembelajaran yang diterapkan selama ini, fasilitas yang mendukung pelajaran, lalu mencari kelemahan-kelemahan kinerja yang telah dilakukan yang diduga sebagai penyebab terpuruknya hasil belajar siswa. Untuk merencanakan tindakan perbaikan, ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu Guru, sebagai berikut. (1) Apa kepedulian anda terhadap kelas itu? (2) Mengapa anda peduli terhadap hal tersebut? (3) Apa yang menurut pendapat anda, anda dapat lakukan berkenan dengan hal itu? (4) Bukti-bukti yang bagaimana yang dapat anda kumpulkan untuk membantu menelaah apa yang terjadi? (5) Bagaimana anda akan mengumpulkan buktibukti itu? (6) Bagaimana anda akan memeriksa bahwa pertimbangan anda mengenai apa yang terjadi itu cukup tepat dan cermat?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu akan menghasilkan penilaian praktis tentang situasi yang dihadapi dan menghasilkan pula rencana yang mungkin digunakan untuk menangani situasi itu. Dalam hal seperti itu, daur ulang yang serupa dengan yang dikemukakan tersebut terjadi pula, yaitu dengan terjadinya apa yang dirasakan Guru.
1. Guru mengalami suatu masalah dalam mengajar apabila sistem nilai yang diperoleh tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum.
2. Guru membayangkan pemecahan masalah tersebut.
3. Guru bertindak sesuai dengan cara pemecahan yang dibayangkan.
4. Guru menilai hasil upaya pemecahan itu.
5. Guru memperbaiki praktik, rencana, dan gagasan-gagasan mengajar dengan strategi baru sesuai dengan hasil penilaian itu.
6. Guru menerangkan hasil perubahan itu sambil menelaah dampaknya terhadap hasil kerjanya.
8.      Proses PTK
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa keseluruhan proses PTK selengkapnya terdiri atas tahapan-tahapan seperti yang dilukiskan pada Bagan 02, yang pada pokoknya terdiri dari empat tahapan.
Bagan 02
Proses Siklus Penelitian Tindakan kelas
A.    Refleksi Awal, Gagasan Umum, Penelaahan Lapangan, dan Tema Kepedulian
Keempat tahapan berpikir ini adalah langkah awal yang merupakan akumulasi dan       rasa ketidakpuasan seorang Guru atau hasil renungannya terhadap kinerja yang dilakukan. Refleksi awal tidak lain merupakan latar belakang masalah untuk melahirkan gagasan umum. Penelaahan lapangan adalah keberhasilan dalam mengidentifikasi permasalahan yang ada. Menganalisis sumber penyebabnya, dan berdasarkan logika ilmiah diwujudkanlah tema kepedulian yang merupakan permasalahan pokok yang akan diteliti.
Agar hasil penelaahan lapangan dapat seakurat mungkin, maka Guru dianjurkan menyimak kepustakaan penelitian pendidikan (jurnal dan buku sumber) dan pengalaman pribadinya. Hal ini akan membantu kerja yang lebih tepat. Di samping itu, kajian kepustakaan akan menyadarkan Guru ke arah kesiapan pengenalan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai sosial, minat siswa dan atau kelompok kerjanya, yang semuanya akan mempengaruhi rasionalitas, keterbukaan, dan keserasian kerja.
Sebagai ilustrasi, misalkan seorang Guru Biologi sangat peduli terhadap hasil belajar siswanya yang selalu terpuruk (dilihat dari nilai formatif, sumatif, dan ebtanas). Guru mulai bertanya-tanya mengapa nilai siswa selalu buruk? Padahal pembelajaran telah dilakukan sesuai dengan tuntutan kurikulum, banyak pembahasan masalah-masalah nyata, sering ulangan, dan sebagainya. Setelah diselidiki lebih jauh, misalnya dengan mengadakan wawancara pada beberapa siswa, terungkap bahwa siswa kurang puas dengan model pembelajaran diskusi biasa yang diterapkan selama ini. Disinyalir bahwa Guru tidak pernah mengubah cara memfasilitasi pembelajaran, tidak pernah mengajak siswa bereksperimen atau penyelidikan. Berdasarkan data tersebut, Guru mulai memikirkan tema kepeduliannya, misalnya Penerapan Model Problem-Based Learning Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Dasar Siswa Pada Bidang Studi Biologi. Rumusan-rumusan tema tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam rumusan masalah, misalnya apakah penerapan model Problem-Based Learning dapat meningkatkan kompetensi dasar siswa? Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran biologi dengan model Problem-Based Learning? Untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut, Guru hendaknya menyimak tentang peranan Model Problem-Based Learning dalam peningkatan kompetensi dasar siswa, sehingga dia dapat merumuskan hipotesis tindakan.
B.     Perencanaan
Perencanaan selalu mengacu kepada tindakan apa yang dilakukan, dengan mempertimbangkan keadaan dan suasana obyektif dan subyektif. Dalam perencanaan tersebut, perlu dipertimbangkan tindakan khusus apa yang dilakukan, apa tujuannya. Mengenai apa, siapa melakukan, bagaimana melakukan, dan apa hasil yang diharapkan. Setelah pertimbangan itu dilakukan, maka selanjutnya disusun gagasan-gagasan dalam bentuk rencana yang dirinci. Kemudian gagasan-gagasan itu diperhalus, hal-hal yang tidak penting dihilangkan, pusatkan perhatian pada hal yang paling penting dan bermanfaat bagi upaya perbaikan yang dipikirkan. Sebainya perencanaan tersebut didiskusikan dengan Guru yang lain unutk memperoleh masukan.
Berkaitan dengan contoh permasalahan dan tema kepedulian yang telah diuarikan tersebut, alternatif perencanaan untuk melaksanakan PTK adalah menyiapkan rancangan pembelajaran dan lembaran kerja siswa dengan model Problem-Based Learning, mengalokasikan waktu sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran model Problem- Based Learning, menyiapkan pedoman observasi, pedoman penilaian kinerja, , menyiapkan tes kompetensi kognitif, menyiapkan tes sikap, meyiapkan format observasi, menyiapkan angket respon siswa.
C.     Pelaksanaan Tindakan
Jika perencanan yang telah dirumuskan sebelumnya merupakan perencanaan yang cukup matang, maka proses tindakan semata-mata merupakan pelaksanaan perencanaan itu. Namun, kenyataan dalam praktik tidak sesederhana yang dipikirkan. Oleh sebab itu, pelaksanaan tindakan boleh jadi berubah atau dimodifikasi sesuai dengan keperluan di lapangan. Tetapi jangan sampai modifikasi yang dilakukan terlalu jauh menyimpang. Jika perencanaan yang telah dirumuskan tidak dilaksanakan, maka Guru hendaknya merumuskan perencanaan kembali sesuai dengan fakta baru yang diperoleh.
Sesuai dengan contoh permasalahan yang diuraikan sebelumnya, maka tindakan dapat dilakukan sesuai dengan berikut. Pertama-tama Guru menyajikan permasalahan kepada siswa. Selanjutnya, dia bisa memulai pembelajaran dengan langkah-langkah sesuai dengan model Problem-Based Learning. Jika perencanaan telah menetapkan pelaksanaan asesmen kinerja diadakan setiap kali pertemuan, lakukanlah asesmen kinerja tersebut dengan seksama. Hasil asesmen dianalisis sekaligus diberi komentar pada masing-masing konsep yang menjadi materi kinerja para siswa. Komentar hendaknya menyatakan penilaian kuantitatif pada setiap tahap yang dikehendaki secara logis. Komentar berikut nilai dikembalikan kepada siswa untuk dibahas pada pertemuan berikutnya. Agar waktunya efisien, maka diadakan identifikasi kesalah pahaman siswa sekaligus dapat dikelompokkan jenis-jenis kesalah pahaman tersebut. Setelah pembahasan tentang hasil asesmen tersebut selesai, mulailah pembelajaran topik baru, dan demikian seterusnya.
D.    Observasi dan Evaluasi
Hal yang tidak bisa dilupakan, bahwa sambil melakukan tindakan hendaknya juga dilakukan pemantauan secara cermat tentang apa yang terjadi. Dalam pemantauan itu  lakukan pencatatan-pencatatan sesuai dengan form yang telah disiapkan. Catat pula gagasan-gagasan dan kesan-kesan yang muncul, dan segala sesuatu yang benar-benar terjadi dalam proses pembelajaran. Secara teknis operasional, kegiatan pemantauan dapat dilakukan oleh Guru lain. Di sinilah letak kerja kolaborasi antar profesi. Namun, jika petugas pemantau itu bukan rekanan peneliti, sebaiknya diadakan sosialisasi materi pemantauan untuk menjaga agar data yang dikumpulkan tidak terpengaruh minat pribadinya. Untuk memperoleh data yang lebih obyektif, Guru dapat menggunakan alat-alat optik atau elektronik, seperti kamera, perekam video, atau perekam suara. Pada setiap kali akan mengakhiri penggalan kegiatan, lakukanlah evaluasi terhadap hal-hal yang telah direncanakan. Jika observasi berfungsi untuk mengenali kualitas proses tindakan, maka evaluasi berperanan untuk mendeskripsikan hasil tindakan yang secara optimis telah dirumuskan melalui tujuan tindakan.
Seacara ilustratif, berkaitan dengan contoh permasalahan yang telah diungkapkan sebelumnya, maka pemantauan dilakukan untuk mengamati selama pembelajaran, mengamati interaksi selama proses penyelidikan berlangsung, mengamati respon siswa terhadap proses pembelajaran. Sedangkan evaluasi ditujukan kepada hasil belajar siswa melalui asesmen kinerja, portofolio, tes, dan respon siswa melalui penyebaran angket.
E.     Refleksi
Refleksi adalah suatu upaya untuk mengkaji apa yang telah terjadi, yang telah dihasilkan, atau apa yang belum dihasilkan, atau apa yang belum tuntas dari langkah atau upaya yang telah dilakukan. Dengan perkataan lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan. Untuk maksud ini, Guru hendaknya terlebih dahulu menentukan kriteria keberhasilan. Refleksi terdiri atas 5 komponen. Komponen-komponen tersebut dilukiskan pada Bagan 03.
Bagan 03
Komponen-komponen Refleksi dalam PTK Kelima komponen itu dapat terjadi secara berurutan, atau terjadi bersamaan. Apabila Guru selaku pelaksana PTK telah memiliki gambaran menyeluruh mengenai apa yang terjadi pada fase sebelumnya, maka kalau dia ingin melanjutkan tindakan berikutnya, dia harus memikirkan faktor-faktor penyebabnya. Pengkajian seperti itu dilakukan dengan tetap memperhatikan ke seluruhan tema kepedulian PTK yang sedang berjalan dan tentu saja dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai atau perubahan yang diharapkan. Dalam rangka menetapkan tindakan selanjutnya, Guru hendaknya jangan semata-mata terpaku kepada faktor-faktor penyebab yang berhasil dianalisis, tetapi yang lebih penting adalah penetapan langkah berikutnya merupakan hasil renungan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang telah dilakukan, perkiraan peluang yang akan diperoleh, kendala atau kesulitan bahkan ancaman yang mungkin dihadapi. Hasil refleksi hendaknya didiskusikan sebelum diambil suatu keputusan, lebih-lebih hasil refleksi yang akan digunakan sebagai dasar kesimpulan dan rekomendasi.
Berikut disajikan contoh ilustrasi refleksi. Misalkan hasil observasi terungkap bahwa dari strategi (misalkan diskusi kelas) yang telah digunakan dalam pembelajaran, ternyata siswa ribut, kurang bertanggung jawab, kesiapannya kurang. Hasil observasi terhadap proses pembahasan hasil asesmen diperoleh data bahwa siswa kurang aktif berinteraksi terhadap materi pelajaran, temannya, dan terhadap Guru. Hasil analisis kompetnsinya terungkap masih rendah (belum mencapai target minimal). Respon siswa tidak bisa mengikuti pembelajaran secara optimal dalam waktu singkat, sulit mendapat giliran dalam diskusi kelas, tidak ada kesesuaian antara materi diskusi dengan materi tes, dan lain-lain.
Terhadap semua data tersebut, maka Guru melakukan refleksi. Misalnya diskusi kelas diubah menjadi diskusi kelompok, lebih banyak menyiapkan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi, memberikan tugas sebelumnya kepada siswa, menunjuk secara bergiliran siswa untuk mengerjakan tugas sekaligus dinilai secara kualitatif atau kuantitatif, hasil asesmen didiskusikan kepada siswa sebelum pembelajaran berikutnya, sasaran belajar dirumuskan secara realistis yang mudah diukur, dan lain-lain.

























DAFTAR PUSTAKA

1.      www.awandragon.blogspot.com/2012/01/penelitiantindakankelas
2.      www.007indien.blogspot.com/2012/04/tujuan/penelitiantindakankelas


read more