SEMOGA BERMANFAAT

SELAMAT DATANG DI BLOG KUSNAN HIDAYAT
0 comments

3 hal yang harus diketahui saat wanita mengeluh

3 hal yang harus diketahui saat wanita mengeluh

Kita sering dihadapkan pada keadaan dimana wanita yang kita kenal itu sedang mengeluh terhadap kita. Entah itu ibu, kakak perempuan, adik perempuan, atau teman perempuan, atau bahkan istri kita sendiri bagi yang sudah punya istri. Tetapi jangan menyangka bahwa itu murni sebuah keluhan. Ada beberapa hal tersembunyi dibalik keluhan seorang wanita. Berikut adalah beberapa hal yang harus kita ketahui saat wanita yang kita kenal mengeluh terhadap kita:

1.    Butuh perhatian


Pada dasarnya kodrati wanita itu adalah makluk yang lemah. Salah satu tandanya dia sering mengeluh terhadap orang yang dirasa nyaman olehnya. Tetapi kita sebagai seorang laki-laki yang dirasa nyaman olehnya jangan memiliki pandangan yang sempit. Kita jangan langsung memberi tanggapan bahwa wanita kok kerjaannya cuma mengeluh. Tetapi disini kita mengambil sikap yang bijak dengan cara mendengarkan keluhannya. Sebenarnya dia hanya ingin didengar keluh kesahnya, dia ingin diperhatikan kesibukannya seharian tadi. Dengan memberi sikap perhatian terhadapnya ini akan menjawab teka teki kenapa dia mengeluh secara tiba-tiba terhadap kita laki-laki.

2.    Ingin curhat


Ketika wanita yang kita kenal tiba-tiba mengeluh itu bisa jadi dia ingin curhat, dia ingin berbicara sesuatu hal yang dirasanya penting. Kita jangan langsung menghakimi bahwa wanita itu kerjaannya mengeluh. Coba kita tenangkan dia kemudian ajak dia berbicara apa saja yang membuat dia nyaman. Misal ngobrol masalah pekerjaannya , sekolahnya, atau teman-temannya. Ketika dia sudah nyaman pasti dia akan mulai berbicara atau curhat tentang masalah yang ingin ia ungkapkan. Kalau dia belum bercerita kita bisa memulai duluan bertanya. Sebenarnya ada apa, ada masalah apa, kalau boleh aku mendengarnya siapa tau aku bisa memberi solusi, itu kalau kamu mau berbicara. Ya pandai-pandai kita merayu wanita tersebut untuk bercerita masalahnya.

3.    Mempunyai harapan besar terhadap kita laki-laki


Ketika wanita melihat seorang laki-laki yang menurutnya memiliki potensi untuk membawa perubahan pada dirinya pasti dia akan menaruh harapan yang besar terhadapnya. Tetapi kadang disini penyampaian seorang wanita itu tidak lazim diterima baik oleh laki-laki. Penyampaian harapan tersebut kadang dengan mengeluh terhadap laki-laki tersebut. Ini memang hal yang aneh tetapi ini hal yang wajar karena wanita itu makluk yang membingungkan di mata laki-laki. Dia menginginkan laki-laki tersebut lebih peka, lebih rajin, atau lebih berusaha tetapi keinginan tersebut disampaikan lewat keluhan. Misal kamu jadi laki-laki kok malas, kamu kok tidak pernah berusaha, kamu kok acuh sekali, dan lain sebagainya di cari sendiri lah contohnya soalnya banyak sekali. Dengan adanya hal tersebut kita harus pandai menterjemahkan bahasa tersebut. Jika di bilang laki-laki kok malas itu artinya dia memiliki harapan bahwa kita supaya menjadi laki-laki yang rajin dan berusaha keras. Dan contoh terjemahan lainnya yang mungkin bisa kita terjemahkan sendiri-sendiri.

Mungkin itu yang bisa disampaikan pada kesempatan ini. Pada intinya wanita itu adalah makluk yang penuh teka-teki. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai menanggapi atau menangkap situasi tersebut.

Salam
By Maskus
read more
0 comments

Bagaimana menikah sebelum mapan ? mari lihat penjelasannya



Wedding
Beruntunglah mereka yang menikah sebelum mapan. Berbahagialah mereka yang mendapatkan pasangan yang belum mapan.
Banyak laki-laki yang menunda menikah dengan alasan ‘belum mapan’. Saya tak ingin memperdebatkan apa definisi ‘mapan’ di sini, karena mapan bagi setiap orang punya ukuran yang berbeda-beda. Tapi, bagi mereka yang masih ragu untuk menikah karena menunggu mapan, izinkanlah saya memberi nasihat yang baru: Menikahlah sebelum mapan!
Saya selalu suka kalimat John Donne yang pernah juga dipelesetkan Abraham Heschel, katanya: ‘No man is an island’, tak ada laki-laki yang menjadi pulau bagi dirinya sendiri. Artinya, tak ada seorangpun yang bisa hidup sendirian—seperti sebuah pulau yang tak membutuhkan orang lain. Setiap orang selalu membutuhkan orang lain untuk berbagi dan mengisi sesuatu yang ‘kosong’ dalam hidupnya. Dalam konsep ini, menurut Donne, tak ada seorang pun di dunia ini yang ‘mapan’.
Jika seorang yang hendak menikah memiliki cara berpikir demikian, maka pernikahan bisa didekati dengan cara yang lebih rendah hati. Jika seorang laki-laki bisa berpikir ‘saya belum mapan’, misalnya, maka ia akan mendekati istrinya sebagai seseorang yang akan menyempurnakan hal-hal yang belum mapan dalam dirinya.
Bagi saya, mapan tentu saja bukan soal kekayaan atau kepemilikan saja, mapan adalah soal kesanggupan individu dalam menghadapi berabagai tantangan dalam hidupnya. Kalau mapan hanya soal uang atau karir, bukankah banyak yang berlebih secara materi dan gemilang di tempat kerja tapi tak sanggup menghadapi ego dan amarahnya sendiri? Nah!
Dengan pemahaman baru ‘menikah sebelum mapan’, seseorang akan menghadapi pasangannya dengan penuh penghargaan. Karena ia sadar bahwa dalam diri pasangan tersebut ada sisi-sisi yang akan menyempurnakan dirinya. Bayangkan kalau cara berpikir seperti ini tidak ada dalam sebuah pernikahan, hubungan suami-istri akan melulu atas-bawah, subordinatif, dan cenderung tidak adil.
Tidak sedikit suami yang karena merasa bahwa dialah yang memiliki ‘penghasilan’, dialah yang punya uang, dialah yang hidupnya ‘mapan’, dialah yang bersinar di dunia luar, malah merendahkan dan tidak menghargai istrinya.
Jika nekad menikah sebelum mapan, lantas istri dan anak mau dikasih makan apa—dikasih makan cinta? Barangkali pertanyaan itu benar-benar terasa mengganggu. Tapi orang-orang lupa bahwa mapan tak sama dan sebangun dengan rasa tanggung jawab. Yang dibutuhkan dalam pernikahan bukanlah harta yang berlimpah, tapi rasa tanggung jawab yang cukup.
Percuma saja punya kekayaan banyak tapi tak bertanggung jawab, kan? Banyak kok suami yang rela membuat istri dan anak-anaknya ‘susah’ tetapi memanjakan dirinya sendiri—malah memanjakan selingkuhannya. Artinya, harta yang banyak tak akan berarti apa-apa dalam pernikahan jika kita tak punya banyak cinta untuk menjalaninya.
Suatu hari saya ditanya soal mewujudkan impian bersama dalam rumah tangga, “Bagaimana meyakinkan istri atau suami agar mau bersama-sama mewujudkan impian besar yang kita miliki?” Jawabannya tentu saja sederhana. Pertama-tama, berpikirlah bahwa kita adalah individu yang tidak sempurna, bahwa kita selalu membutuhkan bantuan orang lain, bahwa kita membutuhkan partner untuk mewujudkan impian-impian kita.
Dengan merasa bahwa kita ‘tidak sempurna’, maka kita akan terus menjadi ‘pribadi yang membelum’, pribadi yang selalu dalam proses… Di sanalah akan tercipta kesalingpahaman antara suami dan istri. Selanjutnya, keduanya akan sama-sama menjalin komitmen untuk bersama mewujudkan impian-impian besar yang mereka miliki.
Tapi, jangan hanya saling mengerti untuk mewujudkan impian-impian besar saja! Pernikahan bukan hanya tentang mewujudkan impian-impian besar, tapi juga menjalani hal-hal kecil di keseharian. Jika yang ada dalam pikiran Anda hanya ingin mewujudkan impian-impian besar, sebaiknya jangan menikah, tapi ikutlah organisasi atau partai politik!
Lantas apakah dengan menikah seseorang yang ‘belum mapan’ akan menjadi mapan? Belum tentu. Tergantung kualitas pernikahan itu sendiri. Dan kualitas pernikahan ditentukan oleh pola hubungan antara suami dan istri. Banyak suami atau istri yang memperlakukan pasangannya dengan prinsip relasi ‘aku-kamu’, dengan menganggap pihak ‘kamu’ hanya sebagai objek atau benda yang tak memiliki kehendak atau pilihan-pilihan.
Tentu saja relasi semacam ini miskin empati. Dalam relasi ‘aku-kamu’ semacam ini, pusat kepentingan ada di ‘aku’ dan ‘kamu’ adalah pihak luar, kamu adalah yang harus memerhatikan aku, kamu adalah yang harus nurut, kamu adalah objek yang tidak merdeka.
Martin Buber, filsuf asal Austria, menawarkan pola hubungan lain yang lebih baik. Ia menyebutnya ‘aku dan engkau’ (I and Thou atau Ich und Du). Dalam relasi aku-engkau, kata Buber, ‘engkau’ lebih dihargai sebagai subjek yang setara. Karena dalam diri ‘engkau’ ada bagian dari ‘aku’. Pemisah antara aku dan engkau bukan sekadar hak dan kewajiban, tetapi ikatan yang saling menguatkan.
Jika kita melihatnya dalam konteks pernikahan, dalam hubungan ‘aku-engkau’ cara pandangnya bukan semata-mata tentang apa kewajiban serta hak-hak suami terhadap istrinya, atau sebaliknya, tetapi lebih kepada hubungan kasih-sayang—juga rasa cinta. Jika hubungan rumah tangga di bangun di atas prinsip ini, tak ada lagi persoalan ‘siapa harus menghormati siapa’ atau ‘siapa harus menurut kepada siapa’ sebab segalanya berdasar pada ‘aku melakukan ini dan tidak melakukan itu karena aku menyayangimu’.
Kembali pada diskusi kita soal kemapanan, individu yang lebih menghargai individu lainnya, suami yang lebih berempati pada istrinya, memiliki peluang lebih besar untuk mapan dalam pernikahannya. Sekali lagi, mapan bukan hanya soal kepemilikan kapital dan kecukupan finansial, tetapi ‘mapan’ dalam pengertian yang lebih luas: Menjadi pribadi dewasa yang sanggup menghadapi beragam tantangan dalam hidupnya. Dengan modal kemapanan semacam ini, pernikahan yang bahagia tentu merupakan sesuatu yang niscaya.
Akhirnya, bagi saya, prinsip ‘menikah sebelum mapan’ adalah pilihan orang-orang cerdas yang penuh optimisme sakligus empati. Bagi yang sedang mencari pasangan, carilah orang yang seperti ini. Carilah orang yang akan mengajak Anda sukses dan bahagia bersama, bukan orang yang merasa sudah sukses lalu hanya akan menjadikan Anda ‘pelengkap’ saja.
Maka benarlah firman Allah dalam Al-Quran, istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian baginya (Al-Baqarah 187). Suami adalah individu yang belum mapan tanpa istrinya, dan istri adalah pribadi yang belum sempurna tanpa suaminya.
Jadi, bagaimana? Masih menunggu mapan untuk menikah? Sampai kapan?

Sumber : bobobibi.com
read more
0 comments

Tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan

Tua itu pasti tapi dewasa itu pilihan
Banyak hal yang selama ini belum kita pahami secara detail. Khususnya dalam hal tua dan dewasa. Dua kata yang saling berdampingan dan dianggap sama. Tetapi ternyata dua kata tersebut memiliki makna yang berbeda.
Kita semua pasti akan menuju masa tua. Entah yang masih balita, anak-anak, remaja, muda-mudi semua akan menuju ke masa tua. Tetapi belum tentu kita semua menuju proses dewasa. Tinggal bagaimana kita memilih proses kehidupan ini, apakah kita belum bisa membedakan mana baik mana buruk, ingin selalu bersenang-senang, tidak mau mempersiapkan masa depan, masih mengedepankan ego, dan kurang bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Atau apakah kita sudah bisa membedakan mana baik mana buruk, ingin menahan keinginan yang tidak bermanfaat, mempersiapkan masa depan, mengurangi ego, dan belajar bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Itu semua tergantung pada diri kita sendiri.
Sebelumnya kita bahas antara tua dan dewasa terlebih dahulu. Tua adalah dimana seseorang sudah berumur 30 an ke atas. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa makna kata tua adalah lebih spesifik terhadap umur. Berapakah umur kita sekarang itu yang menentukan kita masih muda apa sudah tua.
Dewasa adalah proses dimana seseorang sudah bisa membedakan mana baik mana buruk, bisa menempatkan diri pada keadaan apapun, dan berfikir secara matang. Hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa dewasa adalah lebih spesifik pada keadaan psikis seseorang. Diantaranya keadaan kejiwaannya, fikirannya, dan emosinya.


Belum tentu orang yang sudah tua itu dewasa dan belum tentu juga orang yang masih muda itu belum dewasa. Itu semua tergantung pada diri kita sendiri. Jika kita sudah tua tapi masih belum bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, masih suka bersenang-senang yang tidak bermanfaat, tidak mau mempersiapkan masa depan, masih mengedepankan ego, dan kurang bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Berarti itu intinya kita belum dewasa walaupun kita sudah tua.
Jika kita masih muda tapi sudah bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, bisa menahan kesenangan yang tidak bermanfaat, sudah mempersiapkan masa depan, bisa menahan ego, dan belajar bijak dalam mengambil keputusan masa depan. Berarti itu intinya kita sudah dewasa walaupun masih muda.
Dari pemaparan di atas dapat diambil beberapa inti diantaranya, tua itu identik dengan keadaan jasmani dan dewasa itu identik dengan keadaan rohani. Tua itu identik dengan keadaan lahir dan dewasa itu identik dengan keadaan batin. Tua itu identik dengan umur dan dewasa itu identik dengan keadaan psikis.
So jangan pantang menyerah dalam mempelajari kehidupan ini walau masih muda. Justru pemuda adalah para agen perubahan dalam kehidupan ini. Mari kita belajar dewasa mulai dari sekarang. Karena tidak semua orang bisa memahami ini. Jadilah orang-orang pilihan yang bisa memahami dan menerapkan arti sejati kedewasaan ini.


By Maskus
read more