KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat Alloh SWT, atas segala ramat
dan hidayah-Nya yang tiada ternilai harganya sehingga tugas mata kuliah Metode
dan Strategi Pembelajaran ini dapat terselasaika dengan baik. Penulisan tugas
kuliah ini bukanlah akhir dari sebuah proses balajar,akan tetapi sebagai awal
bagi penulis untuk bisa melangkah kedepan dengan baik.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati
penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah memberikan
bimbingan, dukungan atas terselesaikannya tugas mata kuliah metode dan strategi
pembelajaran kepada :
1.
Bapak Drs. Bambang Prawiro, M. M.
2.
Teman-teman kontrakan dan KSR yang mendukung penulisan tugas ini.
3.
Dan masih banyak yang lainnya yang tidak bisa sebut satu persatu
Tak lupa penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan penulisan tugas kuliah metode dan strategi
pembelajaran kedepannya.
Surakarta, 07 november 2012
Kusnan Hidayat
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
1. Pentingnya Penelitian Tindakan Kelas
Dalam menjalankan tugasnya, secara ideal guru
merupakan agen pembaharuan.Sebagai agen pembaharuan, guru diharapkan selalu
melakukan langkah-langkah inovatif berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi
terhadap pembelajaran yang telah dilakukannya.Langkah inovatif sebagai bentuk
perubahan paradigma guru tersebut dapat dilihat dari pemahaman dan penerapan
guru tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK sangat mendukung program
peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah yang muaranya adalah peningkatan kualitas
pendidikan. Hal ini, karena dalam proses pembelajaran, guru adalah praktisi dan teoretisi
yang sangat menentukan. Peningkatan kualitas pembelajaran, merupakan tuntutan
logis dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (Ipteks) yang semakin
pesat. Perkembangan Ipteks mengisyaratkan penyesuaian dan peningkatan proses
pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga berdampak positif terhadap peningkatan
kualitas lulusan dan keberadaan sekolah tempat guru itu mengajar.
Berdasarkan
penjelasan tersebut, peningkatan kompetensi guru merupakan tanggung jawab moral
bagi para guru di sekolah. Peningkatan kompetensi guru mencakup empat jenis, yaitu (1)
kompetensi pedagogi (2) kompetensi profesional, (3) kompetensi sosial, dan (4)
kompetensi kepribadian. Berdasarkan UURI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, PPRI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan UURI
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, peningkatan kompetensi guru menjadi
isu strategis dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Bahkan menurut PPRI Nomor 19
Tahun 2005 tersebut pada pasal 31 ditegaskan, bahwa selain kualifikasi, guru
sebagai tenaga pendidik juga dituntut untuk memiliki sertifikat kompetensi sesuai
dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkannya.
Upaya peningkatan keempat kompetensi merupakan upaya
peningkatan profesionalisme
guru. Peningkatan profesionalisme dapat dicapai oleh guru dengan cara melakukan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) secara berkesinambungan. Praktik pembelajaran melalui
PTK dapat meningkatkan profesionalisme guru (Ahmar, 2005; Jones & Song, 2005;
Kirkey, 2005; McIntosh, 2005; McNeiff, 1992). Hal ini, karena PTK dapat membantu (1)
pengembangan kompetensi guru dalam menyelesaikan masalah pembelajaran mencakup
kualitas isi, efisiensi, dan efektivitas pembelajaran, proses, dan hasil belajar siswa,
(2) peningkatan kemampuan pembelajaran akan berdampak pada peningkatan kompetensi
kepribadian, sosial, dan profesional guru (Prendergast, 2002). Lewin (dalam
Prendergast, 2002:2) secara tegas menyatakan, bahwa penelitian tindakan kelas merupakan cara
guru untuk mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan pengalamannya sendiri
atau pengalamannya berkolaborasi dengan guru lain. Sementara itu, Calhoun dan Glanz
(dalam Prendergast, 2002:2) menyatakan, bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu
metode untuk memberdayakan guru yang mampu mendukung kinerja kreatif
sekolah. Di samping itu, Prendergast (2002:3) juga menyatakan, bahwa penelitian tindakan
kelas merupakan wahana bagi guru untuk melakukan refleksi dan tindakan secara
sistematis dalam pengajarannya untuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa. Cole dan Knowles
(Prendergast (2002:3-4) menyatakan bahwa, penelitian tindakan kelas dapat mengarahkan
para guru untuk melakukan kolaborasi, refleksi, dan bertanya satu dengan yang lain dengan
tujuan tidak hanya tentang program dan metode mengajar, tetapi juga membantu para guru
mengembangkan hubungan-hubungan personal. Pernyataan Knowles tersebut juga
didukung oleh Noffke (Prendergast (2002:5), bahwa penelitian tindakan kelas dapat
mendorong para guru melakukan refleksi terhadap praktek pembelajarannya untuk
membangun pemahaman mendalam dan mengembangkan hubungan-hubungan
personal dan sosial antar guru. Whitehead (1993) menyatakan, bahwa penelitian tindakan
kelas dapat memfasilitasi guru untuk mengembangkan pemahaman tentang pedagogi dalam
rangka memperbaiki pemberlajarannya.
Penjelasan-penjelasan
teoretis tersebut mengindikasikan, bahwa pemahaman dan penerapan PTK akan
membantu guru untuk mengembangkan keempat kompetensi yang dipersyaratkan oleh
UURI Nomor 14 Tahun 2005. PTK akan memfasilitasi guru untuk meningkatkan
kompetensi-kompetensi profesional, pedagogi, kepribadian, dan sosial. Agar PTK tidak lepas
dari tujuan perbaikan diri sendiri, maka sebelum seorang. Guru atau para Guru
memulai merancang dan melaksanakan PTK, perlu memperhatikan hal-hal berikut.
1.
PTK adalah alat untuk memperbaiki atau menyempurnakan mutu pelaksanaan tugas sehari-hari (mengajar
yang mendidik), oleh karena itu hendaknya sedapat mungkin memilih metode atau
model pembelajaran yang sesuai yang secara praktis tidak mengganggu atau
menghambat komitmen tugasnya sehari-hari.
2.
Teknik pengumpulan data jangan sampai banyak menyita waktu, sehingga tugas
utama Guru
tidak terbengkalai.
3.
Metodologi penelitian hendaknya memberi kesempatan kepada Guru untuk merumuskan hipotesis
yang kuat, dan menentukan strategi yang cocok dengan suasana dan keadaan kelas
tempatnya mengajar.
4.
Masalah yang diangkat hendaknya merupakan masalah yang dirasakan dan diangkat dari wilayah tugasnya
sendiri serta benar-benar merupakan masalah yang dapat dipecahkan melalui PTK
oleh Guru itu sendiri.
5.
Sejauh mungkin, PTK dikembangkan ke arah meliputi ruang lingkup sekolah. Dalam hal ini, seluruh staf
sekolah diharapkan berpartisipasi dan berkontribusi, sehingga pada gilirannya Guru-Guru
lain ikut merasakan pentingnya penelitian tersebut. Jika kepedulian seluruh staf berkembang, maka
seluruh staf itu dapat bekerja sama untuk menentukan masalah-masalah
sekolah yang layak dan harus diteliti melalui PTK.
2. Pengertian PTK
Penelitian tindakan telah mulai berkembang sejak
perang dunia kedua. Oleh sebab itu, terdapat banyak pengertian tentang PTK.
Istilah PTK dideferensiasi dari pengertian pengertian berikut.
Kemmis
(1992): Action research as a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a
social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice
of (a) their on social or educational practices, (b) their understanding of these
practices, and (c) the situations in which practices are carried out.
McNeiff (2002): action research is a term which
refer to a practical way of looking at your own work to sheck that it is you
would like it to be. Because action research is done by you, the
practitioner, it is often referred to as practitioner based research; and because
it involves you thinking about and reflecting on your work, it can also be called a
form of self-reflective practice.
Berdasarkan penjelasan Kemmis dan McNeiff tersebut,
dapat dicermati pengertian PTK
secara lebih rinci dan lengkap. PTK didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian
yang bersifat
reflektif oleh pelaku tindakan. Tindakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional
dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas sehari-hari, memperdalam pemahaman
terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana
praktik-praktik pembelajaran tersebut dilakukan. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut,
PTK dilaksanakan dalam proses berdaur (cyclical) yang terdiri dari empat tahapan, planing,
action, observation/evaluation, dan reflection.
3. Karakteristik PTK
Karakteristik PTK yang sekaligus dapat membedakannya
dengan penelitian formal adalah
sebagai berikut.
1.
PTK merupakan prosedur penelitian di kelas yang dirancang untuk menanggulangi masalah nyata yang
dialami Guru berkaitan dengan siswa di kelas itu. Ini berarti, bahwa rancangan penelitian
diterapkan sepenuhnya di kelas itu, termasuk pengumpulan data, analisis, penafsiran,
pemaknaan, perolehan temuan, dan penerapan temuan. Semuanya dilakukan di kelas dan
dirasakan oleh kelas itu.
2.
Metode PTK diterapkan secara kontekstual, dalam arti bahwa variabel-variabel
yang ditelaah
selalu berkaitan dengan keadaan kelas itu sendiri. Dengan demikian, temuan hanya berlaku untuk
kelas itu sendiri dan tidak dapat digeneralisasi untuk kelas yang lain. Temuan PTK
hendaknya selalu diterapkan segera dan ditelaah kembali efektivitasnya dalam
kaitannya dengan
keadaan dan suasana kelas itu.
3.
PTK terarah pada suatu perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran, dalam
arti bahwa
hasil atau temuan PTK itu adalah pada diri Guru telah terjadi perubahan, perbaikan, atau
peningkatan sikap dan perbuatannya. PTK akan lebih berhasil jika ada kerja sama antara
Guru-Guru di sekolah, sehingga mereka dapat sharing permasalahan, dan apabila penelitian
telah dilakukan, selalu diadakan pembahasan perencanaan tindakan yang
dilakukan. Dengan demikain, PTK itu bersifat kolaborasi dan kooperatif.
4.
PTK bersifat luwes dan mudah diadaptasi. Dengan demikian, maka cocok digunakan dalam rangka
pembaharuan dalam kegiatan kelas. Hal ini juga memungkinkan diterapkannya suatu
hasil studi dengan segera dan penelaahan kembali secara berkesinambungan.
5.
PTK banyak mengandalkan data yang diperoleh langsung atas refleksi diri
peneliti. Pada
saat penelitian berlangsung Guru sendiri dibantu rekan lainnya mengumpulkan informasi, menata
informasi, membahasnya, mencatatnya, menilainya, dan sekaligus melakukan tindakan-tindakan
secara bertahap. Setiap tahap merupakan tindakan lanjut tahap sebelumnya.
6.
PTK sedikitnya ada kesamaan dengan penelitian eksperimen dalam hal percobaan tindakan yang segera
dilakukan dan ditelaah kembali efektivitasnya. Tetapi, PTK tidak secara ketat
memperdulikan pengendalian variabel yang mungkin mempengaruhi hasil penelaahan. Oleh karena
kaidah-kaidah dasar penelitian ilmiah dapat dipertahankan terutama dalam
pengambilan data, perolehan informasi, upaya untuk membangun pola tindakan, rekomnedasi dan
lain-lain, maka PTK tetap merupakan proses ilmiah.
7.
PTK bersifat situasional dan spesisifik, yang pada umumnya dilakukan dalam
bentuk studi
kasus. Subyek penelitian sifatnya terbatas, tidak representatif untuk
merumuskan atau
generalisasi. Penggunaan metoda statistik terbatas pada pendekatan deskriptif tanpa inferensi.
4. Prinsip PTK
Menurut Hopkins (1993: 57-61), terdapat 6 prinsip
penelitian tindakan kelas.
Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Sebagai seorang guru yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, seyogyanya PTK yang dilakukan tidak
mengganggu komitmennya sebagai pengajar. Ada dua hal penting terkait dengan prinsip
ini. Pertama, mungkin metode pembelajaran yang diterapkannya dalam PTK tidak segera
dapat memperbaiki pembelajarannya, atau hasilnya tidak jauh berbeda dengan metode
yang digunakan sebelumnya. Sebagai pertanggungjawaban profesional, Guru
hendaknya selalu secara konsisten menemukan sebabnya, mencari jalan keluar terbaik,
atau menggantinya agar mampu memfasilitasi para siswa dalam belajar dan
meningkatkan hasil belajar secara lebih optimal. Kedua, banyaknya siklus yang diterapkan
hendaknya mengutamakan pada ketercapaian kriteria keberhasilan, misalnya pembentukan
pemahaman yang mendalam (deep understanding) ketimbang sekadar menghabiskan
kurikulum (content coverage), dan tidak semata-mata mengacu pada kejenuhan
informasi (saturation of information).
2.
Teknik pengumpulan data tidak menuntut waktu dan cara yang berlebihan. Sedapat mungkin hendaknya dapat
diupayakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangai sendiri, sementara Guru
tetap aktif sebagai mana biasanya. Teknik pengumpulan data diuapayakan sesederhana
mungkin, asal mampu memperoleh informasi yang cukup signifikan dan dapat
dipercaya secara metodologis.
3.
Metodologi yang digunakan hendaknya dapat dipertanggung jawabkan
reliabilitasnya yang
memungkinkan Guru dapat mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara meyakinkan,
mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelas, serta memperoleh data yang dapat
digunakan untuk membuktikan hipotesis tindakannya. Jadi, walaupun terdapat
kelonggaran secara metodologis, namun PTK mestinya tetap dilaksanakan atas dasar
taat kaidah keilmuan.
4.
Masalah yang terungkap adalah masalah yang benar-benar membuat Guru galau, sehingga atas dasar
tanggung jawab profesional, dia didorong oleh hatinya untuk memiliki komitmen dalam
rangka menemukan jalan keluarnya melalui PTK. Komitmen tersebut
adalah dorongan hati yang paling dalam untuk memperoleh perbaikan secara nyata proses
dan hasil pelayanannya pada siswa dalam menjalankan tugas-tugas
kesehariannya dibandingkan dengan proses dan hasil-hasil sebelumnya. Dengan demikian,
mengajar adalah penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka
mengkonstruksi pengetahuan sendiri agar mampu melakukan perbaikan praktiknya.
5.
Pelaksanaan PTK seyogyanya mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, PTK hendaknya
diketahui oleh kepala sekolah, disosialisasikan pada rekanrekan Guru, dilakukan sesuai
dengan kaidah-kaidah keilmuan, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata
krama penyusunan karya tulis ilmiah, dan tetap mengedepankan kepentingan siswa
layaknya sebagai
manusia.
6.
Permasalahan yang hendaknya dicarikan solusinya lewat PTK hendaknya tidak
terbatas hanya
pada konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan perspektif sekolah
secara keseluruhan. Dalam hal ini, pelibatan lebih dari seorang pelaku akan sangat
mengakomodasi kepentingan tersebut.
5. Tujuan PTK
Tujuan PTK dapat digolongkan atas dua jenis, tujuan
utama dan tujuan sertaan. Tujuan-tujuan
tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Tujuan utama pertama, melakukan perbaikan dan peningkatan layanan professional Guru dalam menangani
proses pembelajaran. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan melakukan refleksi
untuk mendiagnosis kondisi, kemudian mencoba secara sistematis berbagai model
pembelajaran alternatif yang diyakini secara teoretis dan praktis dapat memecahkan masalah
pembelajaran. Dengan kata lain, guru melakukan perencanaan, melaksanakan tindakan,
melakukan evaluasi, dan refleksi.
2.
Tujuan utama kedua, melakukan pengembangan keteranpilan Guru yang bertolak dari kebutuhan untuk
menanggulangi berbagai persoalan aktual yang dihadapinya terkait dengan pembelajaran.
Tujuan ini dilandasi oleh tiga hal penting, (1) kebutuhan pelaksanaan tumbuh dari
Guru sendiri, bukan karena ditugaskan oleh kepala sekolah,
(2)
proses latihan terjadi secara hand-on dan mind-on, tidak dalam situasi
artifisial, (3) produknyas
adalah sebuah nilai, karena keilmiahan segi pelaksanaan akan didukung oleh lingkungan.
3.
Tujuan sertaan, menumbuh kembangkan budaya meneliti di kalangan Guru.
6. Manfaat PTK
PTK dapat memberikan manfaat sebagai inovasi
pendidikan yang tumbuh dari bawah,
karena Guru adalah ujung tombak pelaksana lapangan. Dengan PTK Guru menjadi lebih mandiri yang
ditopang oleh rasa percaya diri, sehingga secara keilmuan menjadi lebih berani mengambil
prakarsa yang patut diduganya dapat memberikan manfaat perbaikan. Rasa percaya diri
tersebut tumbuh sebagai akibat Guru semakin banyak mengembangkan sendiri pengetahuannya
berdasarkan pengalaman praktis. Dengan secara kontinu melakukan PTK, Guru
sebagai pekerja profesional tidak akan cepat berpuas diri lalu diam di zone nyaman,
melainkan selalu memiliki komitmen untuk meraih hari esok lebih baik dari hari sekarang.
Dorongan ini muncul dari rasa kepedulian untuk memecahkan masalahmasalah praktis
dalam kesehariannya.
Manfaat lainnya, bahwa hasil PTK dapat dijadikan
sumber masukan dalam rangka melakukan
pengembangan kurikulum. Proses pengembangan kurikulum tidak bersifat netral,
melainkan dipengaruhi oleh gagasan-gagasan yang saling terkait mengenai hakikat
pendidikan, pengetahuan, dan pembelajaran yang dihayati oleh Guru di lapangan.
PTK dapat membantu guru untuk lebih memahami hakikat pendidikan secara empirik.
7. Prosedur PTK
PTK merupakan proses pengkajian suatu masalah pada
suatu kelas melalui system daur
ulang dari berbagai kegiatan, seperti yang ditunjukkan pada Bagan 01.
Bagan
01
Daur
Ulang dalam Penelitian Tindakan Kelas
Daur tersebut dapat dilaksanakan bertolak dari hasil
refleksi diri tentang adanya unsur ketidakpuasan diri sendiri terhadap
kinerja yang dilakukan dan yang dilalui sebelumnya. Misalnya, Guru sadar
bahwa hasil belajar siswa pada bidang studi yang diasuh selalu terpuruk. Guru saat itu
berpikir tentang strategi pembelajaran yang diterapkan selama ini, fasilitas yang
mendukung pelajaran, lalu mencari kelemahan-kelemahan kinerja yang telah dilakukan yang diduga
sebagai penyebab terpuruknya hasil belajar siswa. Untuk merencanakan tindakan
perbaikan, ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu Guru, sebagai berikut. (1)
Apa kepedulian anda terhadap kelas itu? (2) Mengapa anda peduli terhadap hal tersebut?
(3) Apa yang menurut pendapat anda, anda dapat lakukan berkenan dengan hal itu? (4)
Bukti-bukti yang bagaimana yang dapat anda kumpulkan untuk membantu menelaah apa
yang terjadi? (5) Bagaimana anda akan mengumpulkan buktibukti itu? (6) Bagaimana anda
akan memeriksa bahwa pertimbangan anda mengenai apa yang terjadi itu cukup
tepat dan cermat?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu akan
menghasilkan penilaian praktis tentang
situasi yang dihadapi dan menghasilkan pula rencana yang mungkin digunakan untuk menangani situasi
itu. Dalam hal seperti itu, daur ulang yang serupa dengan yang dikemukakan tersebut
terjadi pula, yaitu dengan terjadinya apa yang dirasakan Guru.
1.
Guru mengalami suatu masalah dalam mengajar apabila sistem nilai yang diperoleh tidak sesuai dengan tuntutan
kurikulum.
2.
Guru membayangkan pemecahan masalah tersebut.
3.
Guru bertindak sesuai dengan cara pemecahan yang dibayangkan.
4.
Guru menilai hasil upaya pemecahan itu.
5.
Guru memperbaiki praktik, rencana, dan gagasan-gagasan mengajar dengan strategi baru sesuai dengan
hasil penilaian itu.
6.
Guru menerangkan hasil perubahan itu sambil menelaah dampaknya terhadap hasil kerjanya.
8. Proses PTK
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa
keseluruhan proses PTK selengkapnya
terdiri atas tahapan-tahapan seperti yang dilukiskan pada Bagan 02, yang pada pokoknya terdiri
dari empat tahapan.
Bagan
02
Proses
Siklus Penelitian Tindakan kelas
A. Refleksi Awal, Gagasan Umum, Penelaahan
Lapangan, dan Tema Kepedulian
Keempat tahapan berpikir ini adalah langkah awal
yang merupakan akumulasi dan rasa
ketidakpuasan seorang Guru atau hasil renungannya terhadap kinerja yang
dilakukan. Refleksi
awal tidak lain merupakan latar belakang masalah untuk melahirkan gagasan umum. Penelaahan lapangan
adalah keberhasilan dalam mengidentifikasi permasalahan yang ada. Menganalisis sumber
penyebabnya, dan berdasarkan logika ilmiah diwujudkanlah tema kepedulian yang
merupakan permasalahan pokok yang akan diteliti.
Agar hasil penelaahan lapangan dapat seakurat
mungkin, maka Guru dianjurkan menyimak kepustakaan penelitian pendidikan
(jurnal dan buku sumber) dan pengalaman pribadinya. Hal ini akan membantu kerja
yang lebih tepat. Di samping itu, kajian kepustakaan akan menyadarkan Guru ke
arah kesiapan pengenalan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai sosial, minat
siswa dan atau kelompok kerjanya, yang semuanya akan mempengaruhi rasionalitas,
keterbukaan, dan keserasian kerja.
Sebagai ilustrasi, misalkan seorang Guru Biologi
sangat peduli terhadap hasil belajar siswanya yang selalu terpuruk (dilihat
dari nilai formatif, sumatif, dan ebtanas). Guru mulai bertanya-tanya mengapa
nilai siswa selalu buruk? Padahal pembelajaran telah dilakukan sesuai dengan tuntutan
kurikulum, banyak pembahasan masalah-masalah nyata, sering ulangan, dan
sebagainya. Setelah diselidiki lebih jauh, misalnya dengan mengadakan wawancara pada beberapa
siswa, terungkap bahwa siswa kurang puas dengan model pembelajaran diskusi
biasa yang diterapkan selama ini. Disinyalir bahwa Guru tidak pernah mengubah cara
memfasilitasi pembelajaran, tidak pernah mengajak siswa bereksperimen atau penyelidikan.
Berdasarkan data tersebut, Guru mulai memikirkan tema kepeduliannya, misalnya Penerapan
Model Problem-Based Learning Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Dasar Siswa
Pada Bidang Studi Biologi. Rumusan-rumusan tema tersebut selanjutnya dijabarkan
ke dalam rumusan masalah, misalnya apakah penerapan model Problem-Based Learning
dapat meningkatkan kompetensi dasar siswa? Bagaimana respon siswa terhadap
pembelajaran biologi dengan model Problem-Based Learning? Untuk menjawab
permasalahan-permasalahan tersebut, Guru hendaknya menyimak tentang peranan Model
Problem-Based Learning dalam peningkatan kompetensi dasar siswa, sehingga dia dapat merumuskan
hipotesis tindakan.
B. Perencanaan
Perencanaan selalu mengacu kepada tindakan apa yang
dilakukan, dengan mempertimbangkan
keadaan dan suasana obyektif dan subyektif. Dalam perencanaan tersebut, perlu
dipertimbangkan tindakan khusus apa yang dilakukan, apa tujuannya. Mengenai apa, siapa
melakukan, bagaimana melakukan, dan apa hasil yang diharapkan. Setelah pertimbangan
itu dilakukan, maka selanjutnya disusun gagasan-gagasan dalam bentuk rencana yang
dirinci. Kemudian gagasan-gagasan itu diperhalus, hal-hal yang tidak penting dihilangkan,
pusatkan perhatian pada hal yang paling penting dan bermanfaat bagi upaya perbaikan yang
dipikirkan. Sebainya perencanaan tersebut didiskusikan dengan Guru yang lain unutk
memperoleh masukan.
Berkaitan dengan contoh permasalahan dan tema
kepedulian yang telah diuarikan tersebut,
alternatif perencanaan untuk melaksanakan PTK adalah menyiapkan rancangan pembelajaran dan
lembaran kerja siswa dengan model Problem-Based Learning, mengalokasikan waktu
sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran model Problem- Based Learning,
menyiapkan pedoman observasi, pedoman penilaian kinerja, , menyiapkan tes kompetensi
kognitif, menyiapkan tes sikap, meyiapkan format observasi, menyiapkan angket respon siswa.
C. Pelaksanaan Tindakan
Jika perencanan yang telah dirumuskan sebelumnya merupakan
perencanaan yang cukup
matang, maka proses tindakan semata-mata merupakan pelaksanaan perencanaan itu. Namun, kenyataan dalam
praktik tidak sesederhana yang dipikirkan. Oleh sebab itu, pelaksanaan tindakan
boleh jadi berubah atau dimodifikasi sesuai dengan keperluan di lapangan. Tetapi jangan
sampai modifikasi yang dilakukan terlalu jauh menyimpang. Jika perencanaan yang telah
dirumuskan tidak dilaksanakan, maka Guru hendaknya merumuskan perencanaan
kembali sesuai dengan fakta baru yang diperoleh.
Sesuai dengan contoh permasalahan yang diuraikan
sebelumnya, maka tindakan dapat
dilakukan sesuai dengan berikut. Pertama-tama Guru menyajikan permasalahan kepada siswa.
Selanjutnya, dia bisa memulai pembelajaran dengan langkah-langkah sesuai dengan model
Problem-Based Learning. Jika perencanaan telah menetapkan pelaksanaan asesmen kinerja
diadakan setiap kali pertemuan, lakukanlah asesmen kinerja tersebut dengan seksama. Hasil asesmen
dianalisis sekaligus diberi komentar pada masing-masing konsep yang menjadi
materi kinerja para siswa. Komentar hendaknya menyatakan penilaian kuantitatif
pada setiap tahap yang dikehendaki secara logis. Komentar berikut nilai dikembalikan
kepada siswa untuk dibahas pada pertemuan berikutnya. Agar waktunya efisien, maka diadakan
identifikasi kesalah pahaman siswa sekaligus dapat dikelompokkan jenis-jenis
kesalah pahaman tersebut. Setelah pembahasan tentang hasil asesmen tersebut selesai,
mulailah pembelajaran topik baru, dan demikian seterusnya.
D. Observasi dan Evaluasi
Hal yang tidak bisa dilupakan, bahwa sambil
melakukan tindakan hendaknya juga dilakukan
pemantauan secara cermat tentang apa yang terjadi. Dalam pemantauan itu lakukan
pencatatan-pencatatan sesuai dengan form yang telah disiapkan. Catat pula gagasan-gagasan dan
kesan-kesan yang muncul, dan segala sesuatu yang benar-benar terjadi dalam proses
pembelajaran. Secara teknis operasional, kegiatan pemantauan dapat dilakukan oleh Guru
lain. Di sinilah letak kerja kolaborasi antar profesi. Namun, jika petugas pemantau itu
bukan rekanan peneliti, sebaiknya diadakan sosialisasi materi pemantauan untuk
menjaga agar data yang dikumpulkan tidak terpengaruh minat pribadinya. Untuk
memperoleh data yang lebih obyektif, Guru dapat menggunakan alat-alat optik atau elektronik,
seperti kamera, perekam video, atau perekam suara. Pada setiap kali akan mengakhiri
penggalan kegiatan, lakukanlah evaluasi terhadap hal-hal yang telah direncanakan. Jika
observasi berfungsi untuk mengenali kualitas proses tindakan, maka evaluasi berperanan
untuk mendeskripsikan hasil tindakan yang secara optimis telah dirumuskan melalui
tujuan tindakan.
Seacara ilustratif, berkaitan dengan contoh
permasalahan yang telah diungkapkan sebelumnya, maka pemantauan dilakukan
untuk mengamati selama pembelajaran, mengamati interaksi selama proses
penyelidikan berlangsung, mengamati respon siswa terhadap proses
pembelajaran. Sedangkan evaluasi ditujukan kepada hasil belajar siswa melalui asesmen
kinerja, portofolio, tes, dan respon siswa melalui penyebaran angket.
E. Refleksi
Refleksi adalah suatu upaya untuk mengkaji apa yang
telah terjadi, yang telah dihasilkan,
atau apa yang belum dihasilkan, atau apa yang belum tuntas dari langkah atau upaya yang telah
dilakukan. Dengan perkataan lain, refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan
atau kegagalan pencapaian tujuan. Untuk maksud ini, Guru hendaknya terlebih
dahulu menentukan kriteria keberhasilan. Refleksi terdiri atas 5 komponen.
Komponen-komponen tersebut dilukiskan pada Bagan 03.
Bagan
03
Komponen-komponen Refleksi dalam PTK Kelima komponen itu
dapat terjadi secara berurutan, atau terjadi bersamaan. Apabila Guru selaku pelaksana PTK
telah memiliki gambaran menyeluruh mengenai apa yang terjadi pada fase sebelumnya,
maka kalau dia ingin melanjutkan tindakan berikutnya, dia harus memikirkan
faktor-faktor penyebabnya. Pengkajian seperti itu dilakukan dengan tetap memperhatikan ke
seluruhan tema kepedulian PTK yang sedang berjalan dan tentu saja dengan memperhatikan
tujuan yang ingin dicapai atau perubahan yang diharapkan. Dalam rangka menetapkan
tindakan selanjutnya, Guru hendaknya jangan semata-mata terpaku kepada faktor-faktor
penyebab yang berhasil dianalisis, tetapi yang lebih penting adalah penetapan langkah
berikutnya merupakan hasil renungan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan tindakan yang
telah dilakukan, perkiraan peluang yang akan diperoleh, kendala atau kesulitan bahkan
ancaman yang mungkin dihadapi. Hasil refleksi hendaknya didiskusikan sebelum
diambil suatu keputusan, lebih-lebih hasil refleksi yang akan digunakan sebagai dasar
kesimpulan dan rekomendasi.
Berikut disajikan contoh ilustrasi refleksi.
Misalkan hasil observasi terungkap bahwa dari strategi (misalkan
diskusi kelas) yang telah digunakan dalam pembelajaran, ternyata siswa ribut, kurang
bertanggung jawab, kesiapannya kurang. Hasil observasi terhadap proses pembahasan hasil
asesmen diperoleh data bahwa siswa kurang aktif berinteraksi terhadap materi
pelajaran, temannya, dan terhadap Guru. Hasil analisis kompetnsinya terungkap
masih rendah (belum mencapai target minimal). Respon siswa tidak bisa mengikuti
pembelajaran secara optimal dalam waktu singkat, sulit mendapat giliran dalam diskusi
kelas, tidak ada kesesuaian antara materi diskusi dengan materi tes, dan
lain-lain.
Terhadap semua data tersebut, maka Guru melakukan
refleksi. Misalnya diskusi kelas diubah
menjadi diskusi kelompok, lebih banyak menyiapkan pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi, memberikan
tugas sebelumnya kepada siswa, menunjuk secara bergiliran siswa untuk mengerjakan tugas
sekaligus dinilai secara kualitatif atau kuantitatif, hasil asesmen didiskusikan kepada
siswa sebelum pembelajaran berikutnya, sasaran belajar dirumuskan secara realistis yang
mudah diukur, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
1.
www.awandragon.blogspot.com/2012/01/penelitiantindakankelas
2.
www.007indien.blogspot.com/2012/04/tujuan/penelitiantindakankelas



