“Model Pembelajaran Inovatif”

DisusunGunaMemenuhiTugasMataKuliah “MetodedanStrategi Belajar Mengajar”SemesterIII
DosenPengampu:Drs.BambangPrawiro,M.M.
Disusun
oleh:
Nama : Kusnan Hidayat
Nim : K 2511026
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK KEJURUAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012
KataPengantar
Puji syukurkehadiratTuhanYang
MahaEsa atassegalarahmatdan anugerah-Nyaselamasayaberusahamenyusunmateriini.Penyusunanmakalah
inidilakukandalamrangkamemenuhisalahsatutugasmata
kuliahMetode dan StrategiBelajarMengajar.
Penyusunmenyadaribahwamakalahyang berjudul“Model Pembelajaran Inovatif” initidak akan terwujud
tanpa bantuan dari
banyak
pihak. Untuk itupenyusun ingin mengucapkan
terimakasih kepada:
- Drs. Sutrisno, S.T., M.Pd selaku ketuajurusan Pendidikan Teknik KejuruanFKIPUNS,
- YuyunEstriyanto,ST.,M.T. selakuketuaProgramPendidikan, Teknik Mesin FKIPUNS,
- Drs. BambangPrawiro,MMselaku dosen pengampu mata kuliahMetodedan StrategiBelajarMengajar,
- Seluruh staffpengajardan pegawaiFakultas Keguruan danIlmuPendidikan UNS,
- Teman-teman Pendidikan Teknik Mesin FKIP UNS angkatan2011.
Penyusun menyadari
sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalammakalahini.Olehkarenaitu,penyusun
mengharapkansarandankritik
yangmembangundarisemua pihakguna
menyempurnakanmakalahini.Semoga
makalah ini bemanfaat bagi
banyak pihak.
Surakarta, Januari2013
Penyusun
Daftar
Isi
Halaman Judul ...................................................................................................
¡
Kata Pengantar
..................................................................................................
¡¡
Daftar Isi
...........................................................................................................
¡¡¡
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
.....................................................................................
1
2. Rumusan
Masalah
................................................................................
2
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Metode
pembelajaran konstektual (CTL) ....................................... 3
2.
Metode
pembelajaran kooperatif ................................................... 5
3.
Metode
STAD
............................................................................. 8
4.
Metode
Jigsaw
............................................................................ 9
5.
Metode
group investigation ..........................................................
11
6.
Metode
struktural
........................................................................ 13
7.
Model
pembelajaran Quantum ...................................................... 14
8.
Problem
Based Learning ..............................................................
17
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
.........................................................................................
20
2. Saran
...................................................................................................
20
DAFTAR PUSTAKA
.....................................................................................
21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional No.20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa:
Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (2005: 65-66).
Upaya pembaharuan pendidikan
sebagaimana yang tertuang di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Tahun 2003, adalah re-orientasi pendidikan ke arah pendidikan berbasis
kompetensi. Di dalam pembelajaran berbasis kompetensi tersebut tersirat adanya
nilai-nilai pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, sebagai pribadi yang
integral, produktif, kreatif dan memiliki sikap kepemimpinan dan berwawasan
keilmuan sebagai warga negara yang bertanggung-jawab. Indikator ini akan
terwujud apabila diiringi dengan upaya peningkatan mutu dan relevansi sumber
daya manusia (SDM) melalui proses pada berbagai jenjang pendidikan.
Di kalangan umum, terutama siswa
sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi , belajar tidak pernah menjadi hal
yang menyenangkan bagi mereka, belajar dipndang sebagai musuh yang patut
dijauhi, kini belajar adalah hal yang menyenangkan dan nyaman tanya perasaan
cemas, takut dan lelah dengan panduan dari pembelajaran inovatif. Oleh karena
itu penulis memberi judul pada makalah ini “ model pembelajaran inovatif”.
B.
Rumusan Masalah
1. Metode
pembelajaran konstektual (CTL)
2. Metode
pembelajaran kooperatif
3. Metode STAD
4. Metode
Jigsaw
5. Metode group
investigation
6. Metode
struktural
7. Model
pembelajaran Quantum
8. Problem
Based Learning
BAB II
PEMBAHASAN
1. Metode pembelajaran konstektual
(CTL)
A. Pengertian
metode pembelajaran konstektual (CTL)
Pembelajaran/pengajaran
kontekstual merupakan suatu proses
pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna
materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural),
sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat
diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/-konteks
lainnya.
B. Komponen
CTL
v Membuat
hubungan yang bermakna (making meaningful connections) antara sekolah
dan konteks kehidupan nyata, sehingga siswa merasakan bahwa belajar penting
untuk masa depannya.
v Melakukan
pekerjaan yang siginifikan (doing significant work). Pekerjaan yang
memiliki suatu tujuan, memiliki kepedulian terhadap orang lain, ikut serta
dalam menentukan pilihan, dan menghasilkan produk.
v Pembelajaran
mandiri (self-regulated learning) yang membangun minat individual siswa
untuk bekerja sendiri ataupun kelompok dalam rangka mencapai tujuan yang
bermakna dengan mengaitkan antara materi ajar dan konteks kehidupan
sehari-hari.
v Bekerjasama
(collaborating) untuk membantu siswa bekerja secara efektif dalam
kelompok, membantu mereka untuk mengerti bagaimana berkomunikasi/berinteraksi
dengan yang lain dan dampak apa yang ditimbulkannya.
v Berpikir
kritis dan kreatif (critical and creative thingking); siswa diwajibkan
untuk memanfaatkan berpikir kritis dan kreatifnya dalam pengumpulan, analisis dan sintesa data, memahami suatu isu/fakta
dan pemecahan masalah.
v Pendewasaan
individu (nurturing individual) dengan mengenalnya, memberikan
perhatian, mempunyai harapan tinggi terhadap siswa dan memotivasinya.
v Pencapaian
standar yang tinggi (reaching high standards) melalui pengidentifikasian
tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya.
v Menggunakan
penilaian autentik (using authentic assessment) yang menantang siswa
agar dapat menggunakan informasi akademis baru dan keterampilannya kedalam
situasi nyata untuk tujuan yang signifikan.
C. Teori
yang melandasi CTL
Ø Knowledge-Based
Constructivism, menekankan kepada pentingnya siswa
membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses
belajar mengajar.
Ø Effort-Based
Learning/Incremental Theory of Intellegence; Bekerja keras
untuk mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam
kegiatan yang berkaitan dengan komitmen untuk belajar.
Ø Socialization;
yang menekankan bahwa belajar merupakan proses sosial yang menentukan tujuan
belajar, oleh karenanya, faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan
pengajaran.
Ø Situated
Learning; pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan
dalam fisik tertentu dan konteks sosial (masyarakat, rumah, dsb) dalam mencapai
tujuan belajar.
Ø Distributed
Learning; manusia merupakan
bagian terintegrasi dari proses pembelajaran, oleh karenanya harus berbagi
pengetahuan dan tugas-tugas
D.
Tujuan
- Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
- Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman
- Model pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
- Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain
- Model pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna
- Model pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks jehidupan sehari-hari
- Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara indinidu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
2. Metode pembelajaran kooperatif
A.
Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Usaha-usaha guru dalam membelajarkan
siswa merupakan bagian yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan
pembelajaran yang sudah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai
metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang
utama. Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran
adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang
untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu
model pembelajaran yang dapat diterapkan guru adalah model pembelajaran
kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif
Merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya
kelompok-kelompok.Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat
kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja
sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan
keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Nur (2000), semua model
pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan
struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan
pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur
tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.
Tujuan model pembelajaran kooperatif
adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai
keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.
B.
Prinsip Dasar Dan Ciri-Ciri Model Pembelajaran
Kooperatif
Menurut Nur (2000), prinsip dasar
dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
- Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
- Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
- kelompok mempunyai tujuan yang sama.
- Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
- Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
- Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
- Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Sedangkan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif
adalah sebagai berikut :
- Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
- Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
- Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu.
Dalam
pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar
siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling
menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling
membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun
teman lain.
C.
Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Terdapat 6(enam) langkah dalam model pembelajaran
kooperatif.
1. Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta
memotivasi siswa.
2. Menyajikan
informasi.
Guru menyajikan informasi
kepada siswa.
3. Mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menginformasikan
pengelompokan siswa.
4. Membimbing
kelompok belajar.
Guru memotivasi serta
memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok kelompok belajar.
5. Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil
belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
6. Memberikan
penghargaan.
Guru memberi penghargaan hasil
belajar individual dan kelompok.
Jadi, pembelajaran kooperatif mencerminkan pandangan
bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka dan partisipasi aktif dalam
kelompok kecil membantu siswa belajar keterampilan sosial yang penting,
sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap demokrasi dan keterampilan
berpikir logis.
3. Metode STAD (Student Achievment Division
A.
Pengertian Model Pembelajaran STAD
Model
pembelajaran STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Menurut
Nur Citra Utomo dan C. Novi Primiani (2009: 9), “STAD didesain untuk
memotivasi siswa-siswa supaya kembali bersemangat dan saling menolong untuk
mengembangkan keterampilan yang diajarkan oleh guru”. Menurut Mohamad Nur
(2008: 5), pada model ini siswa dikelompokkan dalam tim dengan anggota 4 siswa
pada setiap tim. Tim dibentuk secara heterogen menurut tingkat kinerja, jenis
kelamin, dan suku.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD lebih
menekankan kepada pembentukan kelompok. Kelompok yang dibentuk nantinya akan
berdiskusi untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh karena itu model
pembelajaran STAD dapat membuat siswa untuk saling membantu dalam menyelesaikan
suatu permasalahan.
B.
Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD
Menurut Agus Suprijono (2011:
133-134), langkah-langkah pada model pembelajaran STAD adalah sebagai berikut:
1. Membentuk
kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi,
jenis kelamin, suku, dan lain-lain).
2. Guru
menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi
tugas pada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya
yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota
dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi
kuis/ pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh
saling membantu.
5. Memberi
evaluasi.
6. Kesimpulan.
Pada model pembelajaran STAD, tim
yang terbaik akan mendapatkan sebuah penghargaan. Menurut Mohamad Nur (2008:
5-6), penghargaan diberikan pada tim dengan kriteria tertentu. Kriteria itu
dapat diambil dari skor tim, kekompakan tim dalam bekerja sama, saling membantu
teman satu tim dalam mempelajari materi, dan saling memberi semangat kepada
teman satu tim untuk melakukan yang terbaik. Mohamad Nur (2008: 6) juga
menyatakan bahwa “ide utama di balik STAD adalah untuk memotivasi siswa saling
memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang
dipresentasikan guru”.
C.
Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran STAD
Menurut
Yurisa (2010), kelebihan dan kelemahan model pembelajaran STAD adalah sebagai
berikut:
a) Meningkatkan
kecakapan individu.
b) Meningkatkan
kecakapan kelompok.
c) Meningkatkan
komitmen
d) Menghilangkan
prasangka buruk terhadap teman sebaya.
e) Tidak
bersifat kompetitif
f) Tidak
memiliki rasa dendam.
a) Konstribusi
dari siswa berprestasi rendah menjadi kurang.
b) Siswa berprestasi
tinggi akan mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih
dominan
4.
Metode
Jigsaw
A.
Pengertian Metode Pengajaran
Jigsaw
Dalam hal ini peneliti menggunakan
metode jigsaw. Istilah metode berasal dari bahasa Yunani "Metodos".
Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu "Metha" yang berarti
melalui atau melewati dan "hodos" jalan atau cara. Jadi metode adalah
suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan.
Pengertian jigsaw learning adalah
sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknis
"pertukaran dari kelompok ke kolompok lain." (group to group
exchange) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta didik mengajarkan
sesuatu
Sedangkan menurut Arends (1997)
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran
kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6
orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan
bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari
dan menyampaikan materi tersebut kepada kelompok yang lain.
B.
Langkah-Langkah Pelaksanaan
Metode Jigsaw
1)
Pilihlah materi pelajaran/ kuliah yang dapat dibagi
menjadi beberapa segmen (bagian).
2)
Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan
jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa ada 50 sementara jumlah segmen yang
ada adalah 5, maka masing-masing kelopmok terdiri dari 10 orang. Jika jumlah
ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua, sehingga setiap kelompok
terdiri dari 5 orang, kemudian setelah proses selesai gabungkan kedua kelompok
pecahan tersebut.
3)
Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami
materi kuliah yang berbeda-beda.
4)
Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok
lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompok.
5)
Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian
tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan dalam
kelompok.
6)
Sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk
mengecek pemahaman mereka terhadap materi.
C.
Variasi
ü Berikan
tugas baru misalnya menjawab sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang didasarkan
pada pengetahuan akumulatif dari semua anggota kelompok belajar jigsaw.
ü Beri siswa
tanggung jawab untuk mempelajari ketrampilan, sebagai alternatif dari pemberian
informasi kognitif. Perintahkan siswa untuk saling mengajarkan katrampilan yang
telah mereka pelajari.
D. Faktor Penghambat Metode Jigsaw
Tidak
selamanya proses belajar dengan metode jigsaw berjalan dengan lancar. Ada
beberapa hambatan yang dapat muncul, yang paling sering terjadi adalah kurang
terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini. Peserta didik dan
pengajar masih terbawa kebiasaan metode konvensional, dimana pemberian materi
terjadi secara satu arah. Faktor penghambat lain adalah kurangnya waktu, proses
metode ini membutuhkan waktu yang lebih banyak, sementara waktu pelaksanaan
metode ini harus disesuaikan dengan beban kurikulum.
5.
Metode GI
(Group Investigation)
A.
Definisi
Height menyatakan
to investigation berkaitan dengan kegiatan mengobservasi secara rinci dan
menilai secara sistematis. Jadi investigasi adalah proses penyelidikan yang
dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil
perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam
suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil. Dengan demikian akan
dapat dibiasakan untuk lebih mengembangkan rasa ingin tahu. Hal ini akan
membuat siswa untuk lebih aktif berpikir dan mencetuskan ide-ide atau gagasan,
serta dapat menarik kesimpulan berdasarkan hasil diskusinya di kelas.[1] Model Pembelajaran Group
Investigation adalah suatu tipe Model Pembelajaran Berbasis
(Proyek Project-based Learning).[2]
Group
Investigation merupakan salah satu bentuk model
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas
siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari
melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa
dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik
dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi.
Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi
maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat
melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa
secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir
pembelajaran.
Pengembangan
belajar koorperatif GI didasarkan atas suatu premis bahwa proses belajar
disekolah menyangkut kawasan dalam domain sosial dan intelektual, dan proses
yang terjadi merupakan penggabungan nilai-nilai kedua domain tersebut. Oleh
karena itu, GI tidak dapat diimplementasikan kedalam lingkungan pendidikan yang
tidak bisa mendukung terjadinya diaolog interpersonal (atau tidak mengacu
kepada dimensi sosial-afektif pembelajaran). Aspek sosial-afektif kelompok,
pertukaran intelektualnya, dan materi yang bermakna, merupakan sumber primer
yang cukup penting dalam memberikan dukungan terhadap usaha-usaha belajar
siswa. Interaksi dan komunikasi yang bersifat kooperatif diantara siswa dalam
satu kelas dapat dicapai dengan baik, jika pembelajaran dilakukan lewat kelompok-kelompk
belajar kecil.
Kesuksesan
implementasi teknik koopertif GI sangat tergantung dari pelatihan awal dalam
penguasaan keterampilan komunikasi dan sosial. Tugas-tugas akademik harus
diarahkan kepada pemberian kesempatan bagi anggota kelompok untuk memberikan
berbagai macam kontribusinya, bukan hanya sekadar didesain untuk mendapat
jawaban dari suatu pertanyaan yang bersifat faktual (apa, siapa, di mana, atau
sejenisnya).[3]
Model ini
lebih menekankan pengembangan kemampuan memecahkan permasalahan dalam suasana
yang demokratis dimana pengetahuan tidak diajarkan secara langsung kepada
siswa, tetapi diperoleh melalui proses pemecahan masalah.
B.
PRINSIP PENGGUNAANNYA
Asumsi yang
digunakan sebagai acuan dalam pengembangan model pembelajaran Kooperatif tipe
group invetigation, yaitu:
a.
Untuk meningkatkan kemampuan kreativitas siswa dapat
ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan
pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreativitas.
b.
Komponen emosional lebih penting daripada intelektual,
yang tak rasional lebih penting daripada yang irasioanl, dan
Untuk
meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan harus lebih dahulu memahami komponen
emosional dan irrasional.
C.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
Kelebihan Model Pembelajaran GISetiawan mendeskripsikan
beberapa kelebihan dari pembelajaran GI, yaitu sebagai berikut:
1. Secara
Pribadi
2. Secara
Sosial / Kelompok
Ø Kekurangan Model Pembelajaran GI
§ Sedikitnya
materi yang tersampaikan pada satu kali pertemuan
§ Sulitnya
memberikan penilaian secara personal
§ Tidak semua
topik cocok dengan model pembelajaran GI. Model pembelajran GI cocok untuk
diterapkan pada suatu topik yang menuntut siswa untuk memahami suatu bahasan
dari pengalaman yang dialami sendiri
§ Diskusi
kelompok biasanya berjalan kurang efektif.
Menurut
Pieget bahwa pertukaran gagasan-gagasan tidak dapat dihindari untuk
perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara
langsung, perkembangannya dapat distimulasi oleh konfrontasi kritis, khususnya
dengan teman-teman setingkat. Oleh karena itu diharapkan dengan menggunakan
model pembelajaran GI ini, kompetensi penalaran siswa dapat lebih baik daripada
pembelajaran secara ekspositori.[8]
D. Langkah-langkah
pembelajaran
Enam Tahapan
Kemajuan Siswa di dalam Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Group
Investigation.[10]
|
Tahap I
Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam
kelompok.
|
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi
kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan
heterogenitas.
|
|
Tahap II
Merencanakan tugas.
|
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh
anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti,
bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.
|
|
Tahap III
Membuat penyelidikan.
|
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi
informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam
pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.
|
|
Tahap IV
Mempersiapkan tugas akhir.
|
Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan
dipresentasikan di depan kelas.
|
|
Tahap V
Mempresentasikan tugas akhir.
|
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain
tetap mengikuti.
|
|
Tahap VI
Evaluasi.
|
Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah
diselidiki dan dipresentasikan.
|
7. Model pembelajaran Quantum
A.
Sejarah Quantum Learning
Tokoh utama di balik pembelajaran
kuantum adalah Bobbi DePorter, seorang ibu rumah tangga yang kemudian terjun di
bidang bisnis properti dan keuangan, dan setelah semua bisnisnya bangkrut
akhirnya menggeluti bidang pembelajaran. Dialah perintis, pencetus, dan
pengembang utama pembelajaran kuantum. Semenjak tahun 1982 DePorter mematangkan
dan mengembangkan gagasan pembelajaran kuantum di SuperCamp, sebuah lembaga
pembelajaran yang terletak Kirkwood Meadows, Negara Bagian California, Amerika
Serikat. SuperCamp sendiri didirikan atau dilahirkan oleh Learning Forum,
sebuah perusahahan yang memusatkan perhatian pada hal-ihwal pembelajaran guna
pengembanga potensi diri manusia. Dengan dibantu oleh teman-temannya, terutama
Eric Jansen, Greg Simmons, Mike Hernacki, Mark Reardon, dan Sarah
Singer-Nourie, DePorter secara terprogram dan terencana mengujicobakan
gagasan-gagasan pembelajaran kuantum kepada para remaja di SuperCamp selama
tahun-tahun awal dasawarsa 1980-an.
Dia belajar dari Dr. Georgi Lozanov,
seorang pendidik berkebangsaan bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang
disebutnya sebagai “Suggestology” atau “Suggestopedia
“.prinsipnya adalah bahwa Sugesti dapat dan
pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail
apapun dapat ,memberikan sugesti positif ataupun negatif. Istilah lain darisuggestology adalah accelerated
learning ( pemercepatan belajar).
Demikianlah, metode pembelajaran
kuantum merambah berbagai tempat dan bidang kegiatan manusia, mulai lingkungan
pengasuhan di rumah (parenting), lingkungan bisnis, lingkungan perusahaan,
sampai dengan lingkungan kelas (sekolah). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya
pembelajaran kuantum merupakan falsafah dan metodologi pembelajaran yang
bersifat umum, tidak secara khusus diperuntukkan bagi pengajaran di
sekolah.
Falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum yang telah dikembangkan, dimatangkan, dan diujicobakan tersebut selanjutnya dirumuskan, dikemukakan, dan dituliskan secara utuh dan lengkap dalam buku Quantum Learning.
Falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum yang telah dikembangkan, dimatangkan, dan diujicobakan tersebut selanjutnya dirumuskan, dikemukakan, dan dituliskan secara utuh dan lengkap dalam buku Quantum Learning.
B.
Pengertiuan Quantum Learning
Quantum learning ialah kiat,
petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman
dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu untuk melakukan
eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia).
Quantum learning sebagai
“interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengamsalkan
kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan
mengutip rumus klasik E = mc2, mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi
tubuh manusia yang “secara fisik adalah materi”.
Quantum learning mencakup
aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian
tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti hubungan antara
bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian
siswa dan guru.
”. Pada kaitan inilah, quantum
learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dengan
teori, keyakinan, dan metode tertentu.
C.
Tujuan dan Manfaat
Pembelajaran Quantum Learning
Tujuan
Pembelajaran Quantum Learning:
1. Tumbuhnya emosi positif,
2. kekuatan otak
3. keberhasilan
4. kehormatan diri
Manfaat Pembelajaran Quantum Learning:
1. Sikap Positif
2. Motivasi
3. Belajar Aktif
4. Membangun dan Mempertahankan lingkungan positif
5. Kepercayaan diri
6. Sukses
D.
Karakteristik Pembelajaran
Quantum Learning
• Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika
kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
• Pembelajaran kuantum berupaya memadukan [mengintegrasikan],
menyinergikan, dan mengolaborasikan faktor potensi-diri manusia selaku
pembelajar dengan lingkungan [fisik dan mental] sebagai konteks pembelajaran.
• Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan
bermakna, bukan sekadar transaksi makna.
• Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran
dengan taraf keberhasilan tinggi.
•
Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses
pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
• Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian
penting proses pembelajaran
E. Perbedaan Quantum Learning dan Quantum Teaching
Quantum Teaching dan Quantum
Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Boby DePorter yang
diilhami dari konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat.
1. Quantum
Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas,
berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola
Quantum Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni
Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan.
2. Quantum Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat
menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat,
menyenangkan, dan berkesan.Pola Quantum Teaching terangkum dalam konsep AMBAK
yakni Apa Manfaatnya Bagiku
Jadi, Quantum Teaching diperuntukkan
guru dan Quantum Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai
pembelajar
8. Problem Based Learning (PBL)
A.
PengertianPembelajaranBerbasisMasalah
Model
pengajaranberdasarkanmasalahinitelahdikenalsejakzaman John Dewey.Menurut Dewey
(dalamTrianto, 2009:91) belajarberdasarkanmasalahadalahinteraksiantara stimulus
danrespon, merupakanhubunganantaraduaarahbelajardanlingkungan.Lingkunganmemberikanmasukankepadasiswaberupabantuandanmasalah,
sedangkansistemsarafotakberfungsimenafsirkanbantuanitusecaraefektifsehinggamasalah
yang dihadapidapatdiselidiki, dinilai, dianalisis,
sertadicaripemecahannyadenganbaik.
Pengajaranberdasarkanmasalahmerupakanpendekatan
yang efektifuntukpengajaran proses berfikirtingkattinggi.
Pembelajaraninimembantusiswauntukmemprosesinformasi yang
sudahjadidalambenaknyadanmenyusunpengetahuanmerekasendiritentangduniasosialdansekitarnya.Pembelajaraninicocokuntukmengembangkanpengetahuandasarmaupunkompleks.
Model
pemblajaranberdasarkanmasalahdilandasiteorikonstruktivis.Pada model
inipembelajarandimulaidenganmenyajikanmasalahnyata yang
penyelesaiannyamembutuhkankerjasamaantarasiswa, guru memandusiswamenguraikanrencanapemecahanmasalahmenjaditahap-tahapkegiatan,
guru membericontohmengenaipenggunaanketerampilandanstrategi yang
dibutuhkansupayatugas-tugastersebutdapatdiselessaikan. Guru
menciptakansuasanakelas yang fleksibeldanberorientasipadaupayapenyelidikanolehsiswa.
B.
KarakteristikPembelajaranBerbasisMasalah
MenurutArendsdalamTrianto,
karakteristikpembelajaranberbasismasalahadalah:
(1) Pengajuanpertanyaanataumasalah.
Pembelajaranberdasarkanmasalahmengorganisasikanpengajaran di sekitarpertanyaandanmasalah
yang keduanyasecarasosialpentingdansecarapribadibermaknabagisiswa.
(2) Berfokuspadaketerkaitanantardisiplin.
Masalah yang akandiselidikitelahdipilihbenar-benarnyata agar
dalampemecahannyasiswameninjaumasalahitudaribanyakmatapelajaran.
(3) Penyelidikanautentik.
Siswadituntutuntukmenganalisisdanmendefinisikanmasalah, mengembangkanhipotesis,
membuatramalan, mengumpulkandanmenganalisainformasi, melakukaneksperimen
(jikadiperlukan), membuatinferensi, danmerumuskankesimpulan.
(4) Menghasilkanprodukdanmemamerkannya.
Produkitudapatberupalaporan, model fisik, video maupun program komputer.
(5) Kolaborasi.
Pembelajaranberdasarkanmasalahdicirikanolehsiswa yang bekerjasamasatudengan
yang lainnya, secaraberpasanganataudalamkelompokkecil.
Berdasarkankarekteristiktersebut,
pembelajaranberdasarkanmasalahmemilikitujuan:
a. membantusiswamengembangkanketerampilanberfikirdanketerampilanpemecahanmasalah
b. belajarperanan
orang dewasa yang autentik
c. menjadipebelajar
yang mandiri.
C.
KelebihandanKekuranganPembelajaranBerdasarkanMasalah
Kelebihanpembelajaranberdasarkanmasalahsebagaisuatu
model pembelajaranadalah:
Realistikdengankehidupansiswa
Konsepsesuaidengankebutuhansiswa
Memupuksifat
inquiry siswa
Retensikonsepmenjadikuat
Memupukkemampuan problem
solving
Selainitu, kekurangannyaadalah:
o Persiapanpembelajaran
(alat, problem, konsep) yang kompleks
o Sulitnyamencari
problem yang relevan
o Seringterjadi miss-konsepsi
o Memerlukanwaktu yang
cukuppanjang
D.
SintaksPembelajaranBerdasarkanMasalah
Sintakssuatupembelajaranberisilangkah-langkahpraktis
yang harusdilakukanoleh guru
dansiswadalamsuatukegiatan.Dalampembelajaranberdasarkanmasalah, ada 5
langkahutamayaitu:
|
Tahap
|
TingkahLaku guru
|
|
Tahap-1
Orientasisiswapadamasalah
|
Guru menjelaskantujuanpembelajaran, menjelaskanlogistik yang dibutuhkan,
mengajukanfenomenaataudemonstrasiatauceritauntukmemunculkanmasalah,
memotivasisiswauntukterlibatdalampemecahanmasalah yang dipilih.
|
|
Tahap-2
Mengorganisasisiswauntukbelajar
|
Guru membantusiswauntukmendefinisikandanmengorganisasitugasbelajar yang
berhubungandenganmasalahtersebut
|
|
Tahap-3
Membimbingpenyelidikan individual
maupunkelompok
|
Guru mendorongsiswauntukmengumpulkaninformasi yang sesuai,
melaksanakaneksperimenuntukmendapatkanpenjelasandanpemecahanmasalah.
|
|
Tahap-4
Mengembangkandanmenyajikanhasilkarya
|
Guru membantusiswadalammerencanakandanmenyiapkankarya yang
sesuaisepertilaporan, video, dan model sertamembantumerekauntukberbagitugasdengantemannya.
|
|
Tahap-5
Menganalisisdanmengevaluasi proses
pemecahanmasalah
|
Guru
membantusiswauntukmelakukanrefleksiatauevaluasiterhadappenyelidikanmerekadan
proses-proses yang merekagunakan.
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Pembelajaran/pengajaran
kontekstual merupakan suatu proses
pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna
materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural),
sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat
diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/-konteks
lainnya.
2. Pembelajaran
kooperatif adalah strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil
yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.
3. Pembelajaran
dengan pendekatan keterampilan proses dalam seting pembelajaran kooperatif tipe
STAD dapat mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.
4. metode Group
Investigation dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks,
diantaranya: (a) pembelajaran berpusat pada siswa, (b) pembelajaran yang
dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam
kelompok tanpa memandang latar belakang, (c) siswa dilatih untuk memiliki
kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, (d) adanya motivasi yang mendorong
siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap
akhir pembelajaran.
5. pembelajaran
kuantum merupakan sebuah falsafah dan metodologi pembelajaran yang umum yang
dapat diterapkan baik di dalam lingkungan bisnis, lingkungan rumah, lingkungan
perusahanan, maupun di dalam lingkungan sekolah (pengajaran).
B.
Saran-saran
Demikian makalah ini, kami sadar bahwasanya
makalah ini jauh dari kesempurnaan maka dari itu kami menerima kritik dan saran
untuk kesempurnaan makalah ke depan.
Daftar
Pustaka
Widowati,
Budijastuti. 2001 Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : Universitas Negeri
Surabaya.




0 comments:
Post a Comment